Kamis, 01 Januari 2015

00.00.01, 2015.

Waktu sudah menunjukan pukul 00.00.01 WIB di tahun 2015. Suara petasan berkumandang dari segala penjuru, bahkan sebelum tahun dinyatakan berganti. Riuh, gaduh teriakan sukacita, dan suara terompet pun ikut mengiringi, seakan tak mau kalah dengan indahnya kilau kembang api.

Tapi, tidak demikian dengan keluarga kami. Tradisi setiap tahun, kami tak pernah membuat keributan di luar rumah. Hanya sekedar ibadah dan ramah tamah, mentok-mentok main kembang api depan rumah. Sebaliknya, yang kami lakukan adalah ibadah ucapan syukur dan refleksi 365 hari yang telah terlalui.

Tak kalah menarik, tradisi membuat resolusi untuk tahun 2015 pun acapkali dijalani beberapa orang yang memang memiliki target tahunan yang mudah-mudahan dapat tercapai. Ada yang menarik untukku ditahun ini, aku membuat resolusi tahun 2015 dengan seorang sahabatku sebagai saksinya. Kami sama-sama membuat daftar resolusi kami di tahun ini, dan pada akhir tahun depan kami akan melihat kembali apakah resolusi yang kami buat berjalan dengan baik atau tidak, tercapai atau tidak.

Adapula tradisi mengirimi ucapan selamat tahun baru melalui jejaring sosial yang mungkin hanya sekadar kata-kata yang di copy-paste atau lebih parahnya hanya “meneruskan” dari pesan singkat orang lain. Yang jelas aku tidak suka dengan ucapan melalui broadcast message dan sejenisnya, lebih baik langsung ku end chat saja pesannya. Ha ha ha

Mungkin, malam tahun baru yang kujalani terlihat biasa saja. Berbeda dengan malam tahun baru yang orang lain lewati dengan berkumpul bersama di pusat kota, melakukan countdown,  berpesta makan dan minum, juga melihat cantiknya perpaduan langit malam dan kilauan kembang api diiringi suara petasan yang seakan tak ada teman.

Tapi, untungnya aku tak pernah merasa bosan dengan rutinitas tahunan yang biasa keluarga kami jalani. Malahan, aku merasa penutupan tahun akan lebih terasa bermakna jika dihabiskan dengan duduk dan berkumpul bersama. Bahkan, dengan ibadah kami dapat merenungkan hal apa yang telah kami lalui di tahun yang lalu, hal apa yang belum tercapai dan ingin kami genapi di tahun depan, dan hal apa yang sama sekali tak terlintas di tahun lalu dan ingin di laksanakan di tahun yang akan datang.

Aku dilahirkan sebagai seorang gadis batak tulen. Ayah, ibu, dan saudara-saudaraku rata-rata adalah orang batak. Tak lepas dari tata ibadah, kami memiliki kebiasaan “mandok hata” yang bila diartikan ke dalam bahasa indonesia mungkin berarti mengucapkan sepatah dua patah kata. Tetapi, kata-kata tersebut dapat tersusun menjadi sebuah kalimat panjang bahkan pidato klasik yang sebenarnya tak dapat dikatakan pada hari-hari biasanya. Tak jarang air mata mengiringi setiap untaian kata, mengingat banyaknya kesalahan di tahun-tahun sebelumnya yang sengaja maupun tak sengaja terjadi.

Ada yang berbeda dalam perayaan tahun baru di tahun ini. Keluarga kami memang tidak terlalu besar, hanya ayah, ibu, enam anaknya, dua menantunya, empat cucu, bibi, dan dua orang sepupuku. Tapi, apa yang terjadi bila dari sekian banyak anggota, yang berkumpul hari ini hanya enam orang? Ya, anggota keluargaku yang lain memilih merayakan tahun baru di rumah mertua dan di rumahnya masing-masing. Adapula yang tinggal di luar kota karena alasan pekerjaan. Sepi.

Tapi, lebih dari itu, yang ingin aku sampaikan adalah: satu tahun itu adalah waktu yang singkat, kawan. Mungkin bila kita akan kembali menjalani kali pertama di awal tahun, satu hari yang baru akan terasa lama, apalagi bila kita akan memulai satu mata kuliah yang sekali tayang sebanyak tiga sks, pasti terasa lama sekali. He he... Tapi tidak begitu bila saat-saat tutup tahun seperti ini terjadi.

Saat kita mengulang tahun yang baru dalam hidup kita atau dalam ukuran global, sadarkah kita bahwa waktunya semakin dekat? Kita tak dapat menunda atau membuatnya menjadi semakin lambat. 1 hari tetap 24 jam, 1 minggu tetap 7 hari, dan 1 tahun tetap hanya 365 atau 366 hari. Tak ada yang bisa ditambah atau dikurang.
Maka dari itu, untuk apa kita sia-siakan sisa waktu kita hanya untuk hal-hal sepele yang tak menghasilkan perubahan baik dalam hidup kita? Hanya main-main, ngakunya sih refreshing, tapi dilakukan setiap saat. Kebayang dong, kalau komputer kita di refresh terus, kapan kita bisa bekerja?

Hidup kita tidak akan pernah sebercanda itu. Serius tapi santai merupakan prinsip yang baik yang dapat dipakai oleh setiap orang. Supaya kita serius dalam menjalani hidup, tapi tetap pada porsinya. Jangan lebih, jangan kurang. Nanti stress.

Tahun 2014 ini, aku diajarkan banyak sekali pelajaran. Diajarkan bagaimana harus banyak bersyukur, diajarkan untuk rendah hati, diajarkan untuk tidak menunda-nunda niatan baik, diajarkan untuk memberi maaf dengan cara yang mendidik, diajarkan untuk memiliki komitmen bukan hanya sekedar janji, diajarkan untuk tegas pada diri sendiri, diajarkan untuk mengikuti nurani, dan yang paling menamparku adalah diajarkan bagaimana rasanya kehilangan.

Tak ada yang tahu kapan waktunya akan datang, satu orang pun tidak. Lalu, saat kita menyakiti seseorang, saat kita membuat mereka lelah, saat kita ingin dijadikan yang utama, saat kita merasa diri kita lebih benar dari orang lain, bahkan saat kita lukai hatinya, sadarkah kita bahwa orang itu akan pergi? Maka akan tegakah kita melakukan itu semua?

Seseorang akan amat sangat berharga, bahkan akan terlalu berharga ketika seseorang itu tak dapat kita pandang lagi dengan mata kepala kita sendiri. Saat kita bayangkan wajahnya, kita mengatakan “dia itu masih hidup kok” tapi saat kita cari, bahkan bayangnya pun sudah tak ada. Lalu? Kita bisa apa?

Rindu itu akan terasa sangat menyakitkan ketika kita berusaha mengamalkannya, tapi entah bagaimana? Kepada siapa? Aku benci terhadap gaya berpacaran anak remaja bahkan orang dewasa  yang terlalu berlebihan, yang mudah menangis hanya untuk hal sepele, yang menyiakan-nyiakan waktu bertemu dengan sibuk memainkan gadget masing-masing, yang terlalu mudah marah karena cemburu atau sense of belonging yang tinggi, yang merasa diri cakap sehingga main mata sana-sini. Hei! Hidup orang yang kita sayangi itu terlalu berharga untuk kita perlakukan sesuka hati kita.

Lebih manis mana kita menangis karena mendapat kejutan kecil dari pasangan kita atau menangis karena merasa tak di sms duluan? Lebih berharga mana memegang gadget sendiri atau memegang tangan pasangan kita saat kita bertemu? Lebih baik mana memeluk lalu mengatakan maaf untuk setiap kesalahan yang kita buat dibandingkan marah-marah ga jelas yang selanjutnya menimbulkan penyesalan? Memberi kasih pada orang lain itu tak sekonyol yang kita pikirkan.

Eksistensi seseorang dalam hidup kita adalah hal yang sakral, suatu saat kau akan merindukan saat kau mendengar namanya di suatu tempat yang kau tahu, suatu saat kau akan rindu melihat ia berjalan walau bukan untuk menghampirimu, suatu saat kau akan rindu mendengar suaranya walau bukan untuk memanggil namamu, bahkan kau akan merindukan mendengar suara ia membuang gas di pagi hari meski biasanya itu mengganggumu.

Dapatkah kau katakan bahwa itu semua tidak berharga? Ketika kau mendengar ia berada di suatu tempat yang abstrak, Ketika kau melihat ia berjalan menghampirimu tetapi hanya di dalam mimpimu, ketika kau mendengar suaranya menyanyikan lagu untukmu tetapi hanya sebatas rekaman di ponselmu, bahkan ketika kau melihat seseorang di sebelahmu pada saat kau bangun dari tidurmu, tapi itu bukan dirinya. Bukan sama sekali.
Ya, itulah perkataanku, ungkapan refleksiku untuk tahun yang belum kuketahui mengapa harus terjadi. Aku hanya dapat memohon biar Tuhan yang kuatkan dan teguhkan untuk setiap cobaan yang kualami, untuk setiap ujian yang harus aku hadapi.

Hingga pada akhirnya lagu itu dinyanyikan kembali, lagu yang kusuka, lagu yang turut dinyanyikan pada hari pemakamannya. Satu yang ku tahu, aku rindu kamu. Selamat tahun baru!
“kekuatan serta penghiburan, diberikan Tuhan padaku
Tiap hari aku dibimbing-Nya, tiap jam dihibur hatiku
Dan sesuai dengan hikmat Tuhan, ku di b’ri kan apa yang perlu
Suka dan derita bergantian, memperkuat imanku”