Bandung.
Kota dengan sejuta pesona. Tempat kutuliskan kisahku. Kisah yang tidak ada rasa
pilu, kisah yang tanpa warna kelabu. Kisah yang kutulis hanya untukmu. Hanya
antara aku dan kamu.
00.38
WIB. “Asalkan dengan kamu, hanya sebatas ngeliatin city lights dari atas jembatan pasupati aja udah damai banget, Din.
Selamanya begini, ya.” Perkataan itu terucap begitu saja ketika motor vespa
antik melewati sepanjang jalan jembatan pasupati di malam hari. “Gausah
berlebihan kamu, Ra. Sampai kapan pun city
lights itu kan sama aja. Hal yang perlu kamu tahu, sesuatu yang indah itu
pasti membawa kedamaian. Kamu itu indah, untuk apa nyari kedamaian dari tempat
lain” sesederhana itu Bardin selalu berhasil membuatku mengagumi diriku
sendiri.
Aku
adalah aku. Aku yang selalu berhasil memikat jutaan pasang mata dengan pesona
kulit eksotis khas Nusa Tenggara, suara emas layaknya artis ibukota, dan rambut
hitam yang tergerai dengan megahnya. Entah cantik atau menarik, hanya inilah
aku. Lasora Benaya, seorang gadis peranakan Timor Timur yang tidak mengetahui
siapakah lelaki yang bertanggung jawab atas kelahiranku ke dunia ini.
Aku
lahir dan dibesarkan dalam ketimpangan keluarga yang berusaha mempertahankan
hidup dari yang hanya sekedar bisa makan, hingga bermimpi dapat menempuh
pendidikan terbaik, dan memiliki kehidupan yang setidaknya berbeda dari
kehidupan yang sekarang. Tanpa perlu dijelaskan, lambat laun aku mengetahui
bahwa ibuku menjadi wanita simpanan bos-bos besar yang memiliki bisnis kelas
dunia di kepulauan Sunda Kecil, bagian dari Negeri Indonesia.
Sebagian
anak akan membenci sosok seorang ibu yang bertindak tidak selayaknya seorang
ibu. Tiba di rumah hingga larut malam, tidak pulang dengan alasan banyak urusan
yang belum diselesaikan, dan berpakaian layaknya pakaian yang kekurangan bahan,
bukanlah gambaran wanita yang ingin kupanggil ibu. Tapi, itulah ibu yang selalu
aku akui. Ibu yang menyempatkan bangun dini hari untuk menyiapkan sarapan
anaknya dengan keadaan tak berdaya, ibu yang menampar anak tetangga dan
bertingkah seperti orang sakit jiwa tat kala anak perempuannya bertengkar
dengan alasan memperebutkan sebuah gula-gula, dan yang terpenting, dialah ibu
yang rela menjual tubuhnya hanya untuk menghidupi aku, anaknya. Terlalu naif, memang. Tapi, harus bagaimana lagi? Yang kutahu, ibu tidak pernah memiliki
kesempatan hidup layak semenjak keadaan memaksanya untuk menjadi tulang
punggung keluarga, sebelum akhirnya kedua orang tuanya meninggalkan ia dalam kecelakan
beruntun di hari ulang tahunnya. Di usia 25 tahun, ketika aku hampir naik ke
kelas dua SD, ibu baru bisa membaca buku dengan lancar. Alasan yang masuk akal
untuk pekerjaan yang dipilih ibu untuk menghidupiku, anaknya.
Bibi
Mariane, seorang wanita dengan segala kelebihan dan kebaikannya menjadi teman
yang sepadan untuk ibu. Tidak memiliki seorang pria yang menjadi teman untuk
membesarkan anak, Ibu dan Bibi menjalani hidup dengan segala topeng
ketegarannya. Ibu membayar biaya sewa rumah Bibi Marie dengan balas jasa
menjagaku sepulang sekolah hingga ibu akan menjemputku lagi. Fagadi Bardin,
anak lelaki yang menemani saat sedih dan senangnya bibi – saat sedih dan
senangku juga – menjadi satu-satunya lelaki yang hadir dalam kehidupan kami.
Dan hingga saat ini, Bardin, selalu menjadi yang teristimewa.
Ibu
bilang, Bardin adalah anak keturunan India, ayahnya India. Pantas saja, Bardin
memiliki kulit hitam manis dan hidung proposional yang tidak mirip sama sekali
dengan ibunya yang berhidung mungil dan berkulit kuning khas minahasa. Ayah
Bardin meninggal dunia dalam badai besar ketika menjalani hidup dalam kapal
pesiar. Usia kami pada saat itu masih empat dan enam bulan. Oleh karena itu,
tidak ada satu pun dari antara kami yang pernah melihat ayah kami satu sama
lain. Impas.