Tulisan ini untuk kesepian yang sedang berjejal dalam keramaian. Untuk kamu, yang tengah diam dalam kerumunan kendaraan sambil melihat barisan rumah dan bangunan. Aku adalah bagian dari kesesakan itu. Aku mungkin salah satu yang sedang menikmati hangatnya matahari senja bersamamu, dalam diam, diantara keramaian.
Suatu hari nanti, ada beberapa saat yang akan kita rindukan walau dalam kesunyian. Aku menyukai langit senja, aku menyukai dinginnya malam. Tapi, aku mengeluh akan hal itu. Aku mengeluh ketika aku terpaksa menikmati gradasi dan sepoy anginnya dalam kelelahan. Sedangkan, aku juga akan merindukan tiap saat aku dapat menikmatinya. Semoga Tuhan mengampuni.
Sore ini, kembali aku harus berkutat dengan kemacetan jalan. Dalam balutan seragamku, aku selalu tertarik memerhatikan orang di jalanan. Entah mengapa. Tapi, manusia selalu memiliki mimik yang unik dan menarik. Tak jarang aku tersenyum karenanya. Banyak juga drama cinta, persahabatan, prahara, dan perjalanan hidup di dalamnya. Pemandangan yang melukiskan senyum berbalut kesuntukan secara bersamaan.
Perjalanan satu setengah jam menuju rumah yang selalu aku nikmati, seharusnya. Terlalu banyak hal baru yang aku dapatkan di jalanan. Namun, aku mengeluh dan menangis ketika aku teringat tugas yang memanggil untuk diselesaikan, ketika aku ingat perut yang belum diberi makan, ketika aku muak dengan rumitnya suatu hubungan, dan ketika aku ingat, bahwa hati dipenuhi rasa syukur yang harus diungkapkan. Manusia – maksudnya aku – sering terlalu peka terhadap masalah yang terlihat daripada makna yang tersirat.
Sebelum maghrib, aku biasa melewati satu jalan ramai namun cukup sempit yang menjadi salah satu penghubung diantara dua kota. Mungkin, beberapa orang tahu daerah yang aku maksud. Beberapa bulan terakhir, daerah tersebut menjadi salah satu daerah yang aku rindukan. Jujur, tidak berlebihan. Ada ciptaan Tuhan yang sengaja ditempatkan untuk mengingatkan dan menegurku, bernama keluarga.
Mereka yang menghiasi perjalanan pulangku di sore hari. Entah sejak kapan, tapi aku baru mengetahuinya kurang lebih empat bulan terakhir ini. Ayah, ibu, dan tiga orang anaknya. Usianya rata-rata masih dibawah enam tahun, keluarga muda pikirku. Keluarga muda bukan hanya karena usia anaknya. Tapi, karena kualitas hubungan yang kusaksikan.
Kembali membahas daerah yang kumaksud, daerah ini tidak dapat disebut daerah kumuh. Rumah dinas, pusat perbelanjaan, dan sebuah bangunan apartemen yang baru didirikan, tempat kaum elitis bercengkrama sambil membeli kopi dengan harga luar biasa. Lalu, mereka ada disitu; keluarga muda yang seakan tak acuh terhadap jejalan polusi suara dan udara yang sesungguhnya menyesakan dada.
Aku jatuh cinta pada pemandangan ini. Ayah dan ibu mengasuh dua orang anak sambil menyuapi mereka dengan panganan dari bungkusan nasi. Lauk pauk sederhana, aku lihat hanya dua iris tempe, sambal, dan sekali pernah aku liat ada ikan goreng di dalamnya. Makan mereka lahap, sepertinya enak. Sedangkan disebelahnya si bungsu didudukan di dalam “rumah” tanpa lupa mendapat suapan juga dari sang ibu. Mungkin dia masih belajar jalan, sehingga lebih aman jika tidak turun dari naungan, yang mereka sebut rumah - yang kusebut gerobak.
Aku sangat tertarik dan rasa-rasanya ingin ikut terlarut dalam setiap pembicaraan dan canda tawa yang tidak pernah absen dari pertemuan sore itu. Aku tidak pernah tahu, apakah mereka memiliki rumah atau tidak, atau mungkin saja gerobak itulah satu-satunya harta yang mereka miliki. Karena pakaian, tas, makanan, bahkan bantal lusuh pun ada di dalamnya. Rumah berjalan, atau lebih tepat kusebut istana.
Bagaimana tidak? Merekalah yang memiliki jalanan, itulah kerajaan mereka. Mungkin, yang mereka lakukan setiap hari adalah bertamasya berkeliling kota, sekeluarga. Pekerjaan mereka adalah hiburan mereka. Bahkan, pasti ada beberapa hal yang mereka dapatkan dan tidak bisa kuraih karena setumpuk aktivitas yang melelahkan yang nyatanya harus aku jalani.
Mereka menjalani pekerjaan dan liburan mereka bersamaan, setiap harinya. Sedangkan aku – kita – disibukan dengan upaya-upaya mempertahankan kehidupan, tanpa tahu bagaimana cara menikmatinya. Kita hanya tahu bagaimana mengumpulkan, bertahan, menyelesaikan, lalu mengulanginya terus, yang berujung pada kejenuhan.
Aku selalu tiba di rumah dengan keadaan lelah. Waktu yang kuhabiskan di jalan saja sudah cukup membuatku penat. Belum lagi omelan mama yang sudah menjabarkan setumpuk pekerjaan rumah yang hendak melepas rindunya denganku. Aku mengeluh akan rutinitas yang aku jalani setiap hari. Padahal, hanya istanaku yang sederhana itulah yang dapat menjadi tempatku melepas lelah, kan?
Sekarang lihatlah! Hari-hariku berubah ketika keluarga dalam gerobak itu mengisinya. Inilah yang kusebut istana, merekalah yang empunya kerajaan. Mungkin, mereka pun mengeluh. Si anak tidak pernah menikmati nikmatnya memakai gaun bak putri raja yang menumpuk di lemariku ketika seusianya. Si ibu, mungkin tidak pernah merasakan bagaimana asiknya mengobrol santai sambil meminum teh manis seperti yang orang tuaku lakukan sambil menyambut senja. Ayah? Kulitnya sudah terlalu tebal untuk mengeluhkan teriknya matahari yang memayungi waktu-waktu produktifnya.
Tapi, lihatlah lahapnya mereka makan, lihatlah bahagianya si anak menyambut setiap suapan. Makanan sederhana yang membangkitkan saliva. Makanan sederhana yang tidak pernah aku rasa. Bagaimana mereka bisa sebahagia itu? Sedangkan aku saja harus makan dengan sayuran berkuah. Jika bersyukur, nasi memakai garam saja serasa steak bintang lima, bukan?
Inilah fenomena yang kusebut sebagai "Kerajaan Pinggir Jalan". Mereka kaya dan menjadi raja dengan cara mereka sendiri. Mereka bisa bahagia dengan apa yang mereka miliki. Mereka yang kita anggap tidak memiliki apa-apa, ternyata merekalah yang memiliki segalanya. Mereka yang mengajariku bahwa kebahagiaan yang sederhana itu ada dan nyata. Bukan hanya sekedar kata-kata dalam caption unggahan anak muda.
Inilah fenomena yang kusebut sebagai "Kerajaan Pinggir Jalan". Ketika si kaya sibuk berdebat bagaimana memperkaya diri, mereka ini bersyukur dengan satu suapan nasi. Mereka juga memiliki masalah, sama sepertiku, sama seperti kalian. Tapi, mengapa nafsu makan mereka bisa senikmat itu? Ungkapan syukur, itu jawabannya. Kata yang selalu aku isyaratkan dalam hati dan kata-kata yang selalu aku latih setiap hari. Bagian mana yang sulit? Tuhan sudah menganugerahkan semuanya, semuanya! Yang sulit hanya menyadarinya.
Inilah fenomena yang menegakan bungkuk badanku dalam kelelahan. Fenomena yang memberi teguran mulia - pada kita umat manusia - untuk tidak bertindak seperti seorang yang penuh kekhawatiran, namun hidup sebagai si merdeka yang dipelihara Tuhan.
Pada akhirnya, aku berterimakasih juga pada salah seorang kenalanku. Perbincangan ringan kami semalam kembali membakar semangatku. Tulisanku ini tentang sederhananya mengucap syukur, bukan? Karena itu, aku bersyukur melewati perbincangan semalam denganmu. Perbincangan tentang mengucap syukur, mengucap syukur atas waktu, atas masalah, atas kehidupan, dan kesempatanku membagikan tulisan ini.
Aku harus makan 4 sehat 5 sempurna. Mereka? Mencapai angka satu saja sudah bersukacita. Kualitasnya berbeda. Tapi, nyatanya hasilnya sama. Lalu, apa yang menjadi pembeda? Kedamaiam hati. Mereka memilikinya. Mereka tertawa ketika harus melewati aspal panas dan terik matahari, kita? Pikirkan. Itulah perbedaannya.
Saat ini aku tidak berbagi tentang bagaimana mereka harus tinggal dijalanan dan bagaimana kita harus menjadi tinggi dengan segala kepemilikan. Tapi, saat ini aku berbagi tentang bagaimana kita harus menjadi rendah dengan segala yang kita miliki dan menjadi kaya dengan segala yang Tuhan beri.