Sabtu, 02 September 2023

Dear, aku

Dear aku.
Ini kali kedua kamu merasakan tanda-tanda kehadiran seorang anak, dan kali kedua pula kamu harus merasakan deg-degannya menghadapi pendarahan.
Ga enak, ya? Harus tetap tegak berdiri di antara harapan dan keputusasaan.
Mungkin, kadang kamu sirik. "Kok orang gampang banget ya dapet anak?"-karena kamu begitu ingin memilikinya.
"Kok orang masih hamil muda udah boleh mengunggah di media sosial dan kandungannya baik-baik aja, ya?"-karena kamu masih diingatkan pamali oleh keluargamu, dan kamu menurutinya.
Hari-harimu dipenuhi intimidasi, rasa trauma, dan perasaan bersalah. Kerjaanmu hanya mencari tahu kenapa dan kenapa... Padahal, kamu tahu betul, memiliki anak itu perkara kuasa dan kehendak-Nya.
Sekelebat kamu berpikir, lalu dipermalukan oleh iman Abraham, Nuh, dan Ayub.
Kualitas hubunganmu dengan Tuhan, harus dibuktikan dengan ketaatan-Mu pada proses-Nya, bukan?
...dear aku, tetap bertahan, ya. Jatuh bangun perasaanmu, tangis tawa imanmu, maki puji lisanmu, itu wajar kok!
Tapi, abis ini janji, ya? Siapin banyak-banyak tawa, karena Tuhan lagi siapin cawanmu untuk menerima lebih banyak sukacita.
Pokoknya apapun hasilnya nanti, kejadian ini ga boleh jadi sekadar kejadian, tapi harus kamu gunakan sebagai kesaksian.
Saat ini, kamu hanya perlu percaya, bahwa Iman yang besar mampu memindahkan gunung.
Tapi, iman yang benar, tetap percaya sekalipun gunungnya ga pindah.
Dear aku, tetap bersyukur dan puji Tuhan, ya!

Rabu, 23 Maret 2022

Pujian Salah Alamat

Lagu penyembahan dengan kata-kata yang puitis, lagu pujian dengan aransemen yang enerjik, Worship Leader yang bisa “bawa suasana” pada saat ibadah, dan pembawa firman yang asik, memang menjadi paket lengkap rohani yang sering diburu sama anak-anak muda kristen yang haus akan Tuhan di Hari Minggu.

Oleh karena itu, 'gak jarang anak-anak muda lebih betah di gereja-gereja milenial dibanding dengan gereja tempat mereka berjemaat yang kebanyakan adalah gereja kesukuan. “Hari-hari gue udah berantakan, jadi gue pengin seenggaknya sekali aja dalam seminggu bisa ngerasain hadirat Tuhan dan denger Tuhan ngomong ke gue”.

Puji Tuhan, makin kesini, makin banyak orang yang ngebela-belain “mencari Tuhan” di gereja-gereja yang dianggap bisa memenuhi kehausan tersebut. Rela mengantre, booking ibadah online supaya ga kehabisan slot, bahkan yang budayanya memberi persembahan secara virtual pun, diadaptasi.

Jadi, kenapa? Adakah masalah dari beribadah di gereja diluar kejemaatannya? Sebenarnya, tidak. Selama itu kristen, mengajarkan tentang Kristus, dan berdiri sebagai gereja yang jelas, sama sekali 'gak jadi masalah. Kekeliruannya sering muncul dari “apakah motivasi kita mengikuti ibadah disitu?”

WL-nya? Aransemen lagunya? Kualitas bandnya? Pembawa firmannya? Atau karena ingin mencari hadirat-Nya?

Saya menghidupi gelora dan hasrat anak muda untuk mencari inovasi dan sesuatu yang seru, karena saya pun anak muda. Mengikuti banyak ibadah untuk mencari sesuatu yang baru atau inspirasi yang akhirnya akan kita kembangkan untuk memuliakan nama-Nya juga, itu 'gak salah. Bagus banget, malah! Untuk Tuhan, jangan cepat puas.

Tapi, mencari hadirat Tuhan dari kepenuhan atau andil seseorang itu, tidak benar. Karena, hadirat Tuhan berbicara tentang hati kita pribadi dengan hati-Nya. Tentang kepenuhan kita, ketika mengundang Ia menguasai kita. Jadi, mau kita sedang worship dalam perjalanan, ketika di kamar, atau ketika sedang  melakukan sesuatu, kita bisa izinkan hadirat Tuhan menguasai penyembahan kita. Cukup kita dengan Dia, gak peduli apa lagunya, gimana aransemennya, atau bahkan siapa yang bawa lagunya.

Gimana tentang pembawa firman? Pembawa firman ‘kan memang talenta khusus yang Tuhan kasih, gak semua bisa membawa dan menyampaikan firman dengan baik, dan memang dampaknya fatal, apalagi untuk seorang gembala yang punya banyak domba. Salah-salah asuh, dombanya bisa pergi berhamburan. Ya, itu memang mungkin terjadi.

Tapi, anak-anak Tuhan, jangan pernah biarkan siapa pun memengaruhi pengenalanmu tentang Dia. Mengenal Tuhan bukan kegiatan seminggu sekali, yang dilakukan hanya ketika ibadah formal di gereja. Tertegur atas firman yang dibawakan hamba-Nya itu baik, luar biasa. Tapi, pengalaman pribadi kita lah yang pada akhirnya mempertahankan iman dan apa yang kita sebut hadirat itu, di dalam hidup kita.

Pembawa firman dan worship leader itu hanya manusia, yang Tuhan pakai sebagai alat-Nya. Jangan pernah memuji manusia secara berlebihan, apalagi menjadikan mereka sebagai alasan.

Kekristenan anak muda pernah ada di tahap menerima gelombang gereja-gereja modern yang mengeluarkan lagu, menyuguhkan pembawa firman, dan worship leader yang memang luar biasa baiknya dalam menggunakan talenta mereka. Mengapresiasi talenta tersebut, baik. Membandingkan dengan gereja sebelah, tidak. Memuji penyembahannya baik, berbalik menyembah mereka, tidak.

Sadar tidak sadar, terkadang kekaguman dan pujian kita sering salah alamat. Memengaruhi semangat dan hasrat kita. Meminggirkan kenyataan bahwa yang harus bertakhta itu Dia, bukan anak-Nya. Hadirat-Nya itu dimana-mana, bukan tergantung siapa dan bagaimana. Oleh karena itu, perbaiki motivasi kita, pastikan bahwa pujian yang kita berikan, disampaikan kepada alamat yang tepat.

Senin, 24 Januari 2022

Sindrom Anak Tuhan

Pernah gak, sih? Kita ngerasa gak layak untuk datang ke gereja, karena kita ngerasa gak lebih baik atau gak lebih rohani dari teman-teman kita.
Atau pernah gak, sih? Mengeluhkan teman kita yang kegiatannya rohani, tapi perilakunya roh halus, alias berbeda banget sama apa-apa yang dia lakukan di gereja.
Dua perspektif yang kontras ini, seringkali muncul dalam pikiran beberapa orang yang terlibat atau mau terlibat di gereja. Salah satu merasa dirinya gak layak, yang lainnya merasa orang lain gak layak, karena gak ada perubahan di dalam dirinya.

Oh iya, satu lagi. Fenomena ketika aktivis gereja merasa terganggu dengan kehadiran si pemabuk, si manusia event (yang hadir hanya ketika hari-hari besar kerohanian), atau terganggu dengan kehadiran aktivis nongkrong, yang datang ke gereja cuma buat asik-asikan.

Suatu hari, saya pernah bergaul dengan beberapa anak Tuhan yang sayangnya terjerat dalam kasus penyalahgunaan narkoba. Saya tanya, kenapa mereka tidak datang ke gereja. Seperti mengganti pergaulan untuk mempertahankan pemulihannya. Dari sekian banyak alasan dan penolakan, salah satunya ada yang memiliki kerinduan untuk lepas dari jerat narkoba, namun memiliki alasan “tidak diterima” ketika masuk lingkungan gereja.

Beberapa minggu lalu, saya mendengar firman yang dibawakan oleh salah satu hamba Tuhan, yang mengingatkan cerita zaman sekolah minggu, Zakheus. Zakheus merupakan kepala pemungut cukai yang dibenci karena bekerja pada Pemerintahan Romawi - yang pada saat itu menjajah Bangsa Yahudi - dan acapkali memungut cukai melebihi yang seharusnya. 

Zakheus memiliki kerinduan untuk melihat Yesus, sehingga ia nekad memanjat pohon ara, karena terhalang oleh kerumunan. Singkat cerita, Yesus memanggil Zakheus untuk menumpang makan di rumahnya, dan Zakheus menerima Yesus dengan sukacita. (Lukas 19:1-6).

Fakta yang menarik adalah, semua orang yang melihat kejadian itu, bersungut-sungut dan berkata “Ia menumpang di rumah orang berdosa” (Lukas 19:7). Wajar? Wajar sekali. Zakheus seorang pemungut cukai yang dipekerjakan oleh penjajah pada saat itu, ia memungut melebihi nilai yang seharusnya, dan fakta bahwa ia memiliki tubuh yang tidak umum seperti orang pada zamannya. Lengkap sudah, menjadi alasan untuk Zakheus dibenci oleh banyak orang.

Tapi, bukan Yesus namanya jika hanya melihat apa yang dilihat manusia. Kebayang gak? Kalo pada saat itu, Zakheus memiliki kerinduan yang besar untuk bertobat, tapi Yesus terpengaruh orang-orang di sekitarnya, dan berkata “Gak deh, kamu berdosa”, atau “yakin mau ketemu Aku? Besok juga berdosa lagi”, atau bahkan “Gak, kamu ga layak. Dosamu gak bisa diampuni”.

Tanpa meremehkan keagungan dan kuasa Tuhan, tapi nyatanya memang Yesus datang ke dunia, untuk orang-orang berdosa. Apapun dosanya, berapa kali pun ia berbuat dosa, atau bahkan berapa kali pun ia berusaha untuk tidak melakukan dosa, ya Yesus tetap pada kodratnya, lahir dan mengasihi orang berdosa. Aku... Kita.

Namun ga jarang, kita-kita yang merasa mengasihi Tuhan, menjalani waktu intim dengan-Nya setiap hari, ambil banyak tugas di gereja, dan sebagai-bagainya, justru menjadi hakim tersadis bagi sesama anak-Nya. Sama seperti Bangsa Yahudi yang menghakimi Zakheus, alih-alih bersukacita atas akil balik kehidupannya. Padahal, pertobatan Zakheus tumbuh dari benih sederhana bernama "penerimaan".

Sebenarnya, bukan tanpa alasan. Karena, kerohanian yang kita bangun ini harus dijaga dan dipertanggungjawabkan. Tapi, bahkan dalam sebuah pohon yang berbuah pun, ada beberapa buah yang tidak tumbuh sempurna dan harus dibuang untuk menyelamatkan buah yang lain. Begitu pun dengan perjalanan iman kita, ada beberapa kekeliruan yang harus diluruskan, agar tidak menghasilkan sindrom-sindrom lain yang mungkin menghakimi atau membuat orang lain takut “menjadi rohani”.

Lalu, bagaimana dengan aktivis-aktivis yang kegiatannya rohani, tetapi perilakunya roh halus? Mengingatkan boleh, menghakimi jangan, kamu bukan Tuhan. Jangan jadikan dirimu, menjadi batu sandungan bagi petualangan pertobatan seseorang. Perkara perilakunya yang tidak berubah atau seremeh dirinya yang bukan anggota jemaat gerejamu.

Pengetahuan literasi seseorang tentang alkitab, tidak menjadi tolak ukur keintiman seseorang dengan Tuhan. Keintiman itu akan berbuah melalui pembaharuan sifatnya, perilakunya, cara pandangnya, dan bagaimana ia memperlakukan orang lain. Perjalanan iman setiap orang berbeda, tapi pastikan dalam perjalanan itu, buahnya hanya satu. Buahnya hanya kasih dari kamu.

Minggu, 31 Maret 2019

Karena Langit Punya Fajar

Seberkas cahaya, tanda sebuah harapan

Kau ada bukan untuk mengganggu istirahat orang

Kau ada untuk mengingatkan

Bahwa ada yang harus dijalani, bernama kehidupan


Kau muncul dengan keberanian,

Melawan gelap dan kengerian malam

Tak kalah seindah senja, kau menggemakan keindahan

Yang hanya dapat dinikmati oleh mereka yang mau berjuang


Bukan perkara cahaya yang berusia sementara

Tapi, fakta bahwa kau akan selalu ada

Biar kata orang tak memerhatikan pesonamu,

Hadir tepat waktu adalah tabiatmu


Kalau seorang mengakhiri lelah dan menutup malam,

Kau mendahului lelah itu, untuk menyambut bangun dengan terang

Kau lonceng yang membangunkan dunia,

Agar pagi disemangati oleh pasukan semesta


Kalau aku disuruh memilih,

Tak inginku menjadi bulan, yang tidak akan bertemu kamu

Tak inginku menjadi bumi, yang akan mati tanpamu

Tak inginku menjadi awan, yang terkadang menyamarkan cahayamu


Tapi, jadikanlah aku langitmu

Langit yang mau memperjuangkan hari bersamamu

Langit yang paling bersyukur diciptakan sebagai langit

Karena langit punya kamu.


Senin, 28 Januari 2019

Kediaman

Pikirku, kediaman adalah bentuk fisik dan bangunan
Pikirku, tak akan nyaman jika kutinggali berantakan
Nyatanya, dimana kamu merasa nyaman
Disitulah sebenar-benarnya kediaman

Lalu, ditengah jauhnya kegiatan dan rumah
Kebutuhanmu akan bertambah
Kamu akan membutuhkan apa yang membuatmu nyaman
Seorang yang selalu sedia menjadi kediaman
Seorang yang memberi nyaman, tepat saat kamu membutuhkan

Di dalamnya, kamu dapat menjadi salah
Namun, segera berbenah
Di dalamnnya, kamu dapat menjadi murni
Tapi, selalu dapat menjadi lebih baik lagi

Bayangkan, betapa rasanya hidup
Ketika kamu dapat menjadi manusia
Diizinkan merasa kesal, marah, dan lalai
Namun penghargaan tetap didapatkan

Bayangkan, ketika kamu berada dalam titik terendahmu
Kediamanmulah yang menjadi naungan
Dan ketika kamu meraih suksesmu
Kediamanmulah yang mengingatkan untuk jangan lupa daratan

Mungkin, kamu bertanya
Apakah ada kediaman seperti itu?
Kediaman berwujud seseorang yang sebijak itu?
Aku juga ragu. Tapi, itu dulu

Kediamanku begitu lapang
Memberi izinku untuk membuatnya berantakan
Memaklumkan, bahwa aku akan kembali merapikan
Aku rombak, dan dia izinkan
Demi kebaikan, katanya

Kediamanku bukan benda mati yang hanya bisa diam
Setiap sudutnya seakan terdapat cermin
Cermin yang merefleksikan aku di dalamnya
Sehingga yang diperbaiki jadi ada dua: aku dan dia

Rasanya sakit, tidak enak sama sekali
Helaan nafas dan jatuhnya air mata
Sesak karena terkadang aku bergelut dengan diriku
Bertanya, apa ini perlu?
Tidak apa. Demi kebaikan, katanya

Aku menemukan dan kehilangan diriku
Menemukan diriku yang lama bersembunyi malu
Dan kehilangan yang tidak seharusnya disitu
Secara iklhas, bersamaan, dalam kediaman

Tidak pernah aku merasa menjadi manusia
Tidak pernah serela ini menjalani hidup
Pun sedamai ini dengan diri sendiri

Kini aku menyukai diriku
Diriku yang lebih baik
Diriku yang selalu menjadi lebih baik
Di dalammu, bersamamu, kediamanku.

Minggu, 20 Januari 2019

Tepat Waktu

Mama pernah berkata “Jangan pernah menjalani hidupmu tanpa berdoa”. Lalu, ajaran itu menggema dan menjadi gaya. Mendarah, menjadi daging, dan aku hidup. Aku doakan, doakan, doakan, hingga akhirnya menjelma sebagai sebuah diskusi dengan Tuhan. Kalau saja Tuhan manusia biasa, mungkin Dia sudah bosan. Aku anaknya keras kepala, lebih banyak ngeyel daripada nurutnya. Selama ini, kukira aku sudah jalani hidup yang benar dan taat, ternyata perasaanku saja.

Aku mendoakan seseorang yang aku anggap paling tepat, entah sudah berapa banyak. Seseorang yang sepertinya membutuhkanku, keluarganya pun begitu. Aku mendoakan orang yang aku anggap paling tepat lainnya, namun ternyata memang bukan hanya kasih sayang, aku juga butuh penghargaan. Lagi, aku menjalani suatu hubungan dengan orang yang benar-benar sayang, namun hubungan itu penuh ancaman.

“Tuhan, sepertinya dia. Boleh, ya?”, Ia izinkan. “Tuhan, yang kemarin gagal. Kini aku rasa sudah mendapat yang tepat”, Ia beri jalan. Begitu selanjutnya, hingga aku jatuh dan malah semakin jatuh tanpa menemukan apa yang benar-benar aku doakan. Tidak trauma, aku hanya enggan membuang-buang waktuku lagi dengan satu hubungan yang salah. Suatu hubungan yang hanya berputar di tempat, lebih menyakitkan karena hanya akulah yang berputar sendirian.

Aku izinkan diriku beristirahat, menyerahkan waktuku hanya untuk diriku. Katanya, sebelum menemukan seorang yang mengasihimu, terlebih dahulu kamu harus mengasihi dirimu sendiri. Aku beri jalan untuk diriku dapat mengasihi dirinya, sembari mendokan apa yang menjadi kerinduan. Percayalah, aku jatuh lagi. Aku jatuh, namun tidak berani menyalahkan siapa-siapa. Sekali lagi, karena taatku pada Tuhan hanya sebatas perasaan.

Diskusi itu berkembang menjadi satu perbincangan tawar-menawar. Kupikir, apa Tuhan terlalu sibuk menyediakan apa yang diperlukan orang? Atau karena aku anak yang membangkang? Sehingga Ia kapok memberikan apa yang aku butuhkan. Kenapa Tuhan selalu terlalu terlihat sibuk? Seketika pula aku ingat, sekolahku, keluargaku, hidup-matiku semua aman dalam tangan-Nya. Apalagi yang layak aku minta? Dasar aku si tidak tahu diri.

Sejak itu aku kapok, kapok mendesak Tuhan. Aku mulai ganti gaya, aku menjamah Ia. Aku pikirkan sebuah keluarga, aku lihat bagaimana hubungan anak dan orang tua, lalu aku mulai memikirkan rekan seperti apa yang aku butuhkan? Seorang lelaki yang takut dan memprioritaskan Tuhan, yang mengasihi ibu dan saudara perempuannya, yang bertanggungjawab dan dapat berkomitmen, yang mengasihi serta mau berkorban untukku.  Apa itu muluk-muluk? Tidak, karena aku tahu, Ia akan memilih wakil terbaik-Nya untuk membantuku disini.

Semuanya itu memakan waktu. Namun ajaibnya, ketika aku menunggu dan mendoakan, aku sama sekali tidak merasa bosan. Kejadianku luar biasa. Berkali-kali aku rasa, sangat luar biasa. Aku tahu, tujuan-Nya sangat baik, untuk kebaikanku. Aku tahu, Ia menjaga apa yang aku taruhkan, setidaknya begitu kalau kata lagu. Aku tahu, ketika aku sibuk mempersiapkan diriku menjadi yang terbaik, Ia pun sibuk mempersiapkan waktu, cara, dan manusia yang terbaik pula. Hanya untukku, anak kesayangan-Nya, salah satu anak kesayangan-Nya.

Hadiah waktu, Ia memberikan hadiah itu dalam waktu, dengan cara, dan bersama orang yang memang tidak aku duga. Seseorang yang baru kusadari kelebihannya – justru – ketika aku melewati masalah dengannya. Seseorang yang menyediakan hubungan yang sempurna untukku. Sempurna karena ada marah, kesal, perdebatan, dan kecewa di dalamnya. Sempurna, karena walau kami harus merasakan itu semua, kami tidak pernah lupa mengucap syukur, menjadi seapa adanya, merasakan sukacita – lebih-lebih damai sejahtera.

Layaknya kepingan puzzle, garis kami rumit – tidak lurus. Butuh dibongkar-pasang dan koreksi sana-sini untuk memeroleh gambar yang pas. Bukan perkara mudah, karena ternyata kepingan yang ada terlalu banyak yang berbeda. Tapi, dari situlah kami menyadari, bahwa yang kami butuhkan bukanlah yang sempurna, namun yang mau berusaha. Saling mengusahakan, itulah yang membuat suatu hubungan berjalan.

Banyak sekali perbedaan, terlalu banyak perbedaan. Tidak jarang berujung pada pertengkaran, rasa ketidak percayaan diri, dan banyak rasa bersalah. Namun akhirnya aku  sadar, itulah yang kita butuhkan. Aku dan kamu sama-sama membutuhkan seseorang yang sama sekali bukan aku dan kamu. Lemahku, itulah kekuatanmu. Lalaimu, itulah kelebihanku. Kita saling mengingatkan tanpa lupa berkaca, tanpa lupa membenahi jiwa. Itulah hubungan, mengisi kekosongan dan mengampuni kekurangan.

Sedikit naif memang, aku membawa-bawa Tuhan dalam tulisan yang sebenernya bukan tulisan bertemakan kerohanian. Tapi, ini memang tentang apa yang aku alami, tentu tidak menjadi masalah. Bahkan aku sadar, apa yang aku jalani ini pun masih dalam tahap “pertaruhan”. Pertaruhan tentang bagaimana akhir dari suatu hubungan, bedanya aku menambahkan iman di dalamnya.

Ketika aku menuliskan ini, bukan berarti aku sudah menjadi perempuan yang baik sehingga aku mengatakan pula bahwa Ia telah memberikan yang terbaik. Tapi aku yakin, inilah hadiah waktuku. Hadiah dari masa lalu yang sempat mengecewakan dan terasa sia-sia. Apabila suatu saat hadiah waktuku ini harus kutaruhkan kembali, aku akan mengingat – setidaknya dulu aku pernah menjadi yang terindah dan menjalani waktu hidup yang indah.

Aku tidak pernah menyesali apa yang terjadi. Anggap saja, itu merupakan jalan dan cara didikan dari Tuhan. Aku bersyukur dengan setiap proses aku harus jatuh, jatuh, dan jatuh, karena ketika aku tahu rasa sakitnya, aku menjadi semakin tangguh. Kenapa nikmatnya bukan dari dulu kalau begitu? Percayalah, semuanya akan berbeda jika bukan tepat pada waktu-Nya. Jadi, ketika kini aku baru merasakannya, ya memang karena aku sudah pantas merasakannya.

Ketika suatu saat siapa pun boleh kembali membaca tulisan ini, percayalah bahwa masa lalu, kini, dan masa depanmu akan baik-baik saja. Jagalah apa yang ada, syukuri apa yang pernah terjadi, dan perjuangkan apa yang akan kau raih nanti. Setidaknya, aku sudah mendapatkan hadiah waktuku, semoga ini bagianku. Apabila bukan, akan aku jadikan pelajaran bahwa aku pernah memiliki masa yang sangat layak untuk dikenang.

Saat ini – dan aku meminta restu hingga nanti – izinkanlah aku menjadi rekan doamu, seseorang yang bebas mengasihimu. Terimakasih sudah bersedia meruntuhkan pertahanan dirimu. Terimakasih untuk tetap menjadi dirimu, hanya dirimu versi yang lebih baik. Aku tahu, tidak gampang, tapi kita menang. Masih mau berjuang denganku, kan?

Jumat, 24 November 2017

Selubung Terimakasih

Hari ini, tepat sepuluh hari setelah kepulanganku dari tempat itu. Janjiku, aku akan menuliskan apa yang aku rasakan ketika aku menjalani dua setengah bulan kenyataan di tempat yang bahkan belum pernah aku impikan. Aku bukanlah orang yang terlalu suci untuk mendapatkan bukti kebaikan Tuhan. Tapi – yang kubayangkan – mungkin Tuhan memang memiliki hobi pamer. Memamerkan kebesaran-Nya melalui mereka, keluarga baruku, misalnya. Terimakasih, Tuhan.

“Halo, apa kabarmu, pak?” sapa seorang anak perempuan dengan nada berat melihat pria yang dielu-elukan terduduk lemas dimakan usia di atas lantai ruang makan di siang itu. “Hai! kabarku selalu baik, nak. Bagaimana denganmu?” jawabnya lugas diselipi senyuman hangat yang khas. Bagaimana bisa keadaan seperti ini membuat keadaannya tetap baik-baik saja, sedangkan anak perempuan itu merasakan getirnya seorang bertubuh bidang tunduk takut terhadap keadaan. Wajah protes terhadap jawaban terlihat jelas dari wajah anak perempuan yang malah memancing pria tersebut untuk memberi senyuman.

“Tidak ada hal yang terlalu buruk yang terjadi di dalam hidup, selagi kita masih dapat menjalaninya. Atas ini semua, aku hanya dapat mengucap syukur, aku masih diberikan kesempatan” sambung pria tersebut melanjutkan jawabannya ketika melihat air muka yang terusik dari anak perempuan itu. “Apa lagi yang kau syukuri? Mana lagi yang kau sebut kesempatan?” Anak perempuan itu menaikan nada suaranya atas jawaban terakhir yang diberikan pria yang ia kagumi, seakan-akan lupa bahwa usianya terlampau jauh untuk dapat memberi respon seagresif itu kepadanya.

Anak itu mengingat dan memikirkan hal baik apa yang didapatkan pria yang bersyukur itu di tempat seperti ini? Hidup dibawah aturan yang berlebihan, hidup jauh dari keluarga yang bahkan nampaknya lebih cenderung ingin membuangnya dibanding ingin mengubah dirinya, dan apakah enaknya hidup dibawah tekanan dibanding hidup bebas ketika dia berada di rumahnya sendiri? Anak perempuan itu tidak habis pikir dengan pemikiran naif dari seorang pria yang kini sedang memberikan senyuman menjengkelkan dihadapannya.

“Di tempat ini aku dicintai, tapi masih merasakan sakit hati. Aku makan banyak, tetapi masih merasa lapar, aku tidur dengan nyaman, tapi rasa kantuk itu akan terus datang”. Ya, memang manusia akan terus merasakan itu, kan? Namanya juga hidup. Batin anak perempuan itu di dalam hatinya. “Justru itulah jawabannya. Ketika aku tidak dikendalikan oleh aturan, ketika aku berada di antara keluarga, atau ketika aku menjadi raja di dalam rumah, apakah aku tidak akan mengeluh? Bahkan setelah makan, minum, dan istirahat pun aku masih membutuhkannya dan ternyata hingga saat ini aku masih bisa mendapatkannya”.

“Apakah tujuanmu menjabarkan hal-hal nikmat yang pada dasarnya bisa kudapat? Ah, tanpa kau mendiktekannya untukku pun, aku sudah mengetahuinya. Aku sudah hampir setengah abad menjalani hidup, sedangkan kau? Dua dekade saja belum kau lalui. Hal nikmat apalagi yang belum pernah aku nikmati? Sudahlah, jangan membuatku membayangkan hal-hal nikmat lagi. Aku ini manusia, rasa puasku tidak ada batasnya; keterlaluan. Jangan kau jatuhkan semangat yang sudah kubangun dengan susah payah”. Pembicaraan itu berakhir, anak perempuan itu berhenti dengan senyuman, tujuannya terselesaikan.