Jumat, 24 November 2017

Selubung Terimakasih

Hari ini, tepat sepuluh hari setelah kepulanganku dari tempat itu. Janjiku, aku akan menuliskan apa yang aku rasakan ketika aku menjalani dua setengah bulan kenyataan di tempat yang bahkan belum pernah aku impikan. Aku bukanlah orang yang terlalu suci untuk mendapatkan bukti kebaikan Tuhan. Tapi – yang kubayangkan – mungkin Tuhan memang memiliki hobi pamer. Memamerkan kebesaran-Nya melalui mereka, keluarga baruku, misalnya. Terimakasih, Tuhan.

“Halo, apa kabarmu, pak?” sapa seorang anak perempuan dengan nada berat melihat pria yang dielu-elukan terduduk lemas dimakan usia di atas lantai ruang makan di siang itu. “Hai! kabarku selalu baik, nak. Bagaimana denganmu?” jawabnya lugas diselipi senyuman hangat yang khas. Bagaimana bisa keadaan seperti ini membuat keadaannya tetap baik-baik saja, sedangkan anak perempuan itu merasakan getirnya seorang bertubuh bidang tunduk takut terhadap keadaan. Wajah protes terhadap jawaban terlihat jelas dari wajah anak perempuan yang malah memancing pria tersebut untuk memberi senyuman.

“Tidak ada hal yang terlalu buruk yang terjadi di dalam hidup, selagi kita masih dapat menjalaninya. Atas ini semua, aku hanya dapat mengucap syukur, aku masih diberikan kesempatan” sambung pria tersebut melanjutkan jawabannya ketika melihat air muka yang terusik dari anak perempuan itu. “Apa lagi yang kau syukuri? Mana lagi yang kau sebut kesempatan?” Anak perempuan itu menaikan nada suaranya atas jawaban terakhir yang diberikan pria yang ia kagumi, seakan-akan lupa bahwa usianya terlampau jauh untuk dapat memberi respon seagresif itu kepadanya.

Anak itu mengingat dan memikirkan hal baik apa yang didapatkan pria yang bersyukur itu di tempat seperti ini? Hidup dibawah aturan yang berlebihan, hidup jauh dari keluarga yang bahkan nampaknya lebih cenderung ingin membuangnya dibanding ingin mengubah dirinya, dan apakah enaknya hidup dibawah tekanan dibanding hidup bebas ketika dia berada di rumahnya sendiri? Anak perempuan itu tidak habis pikir dengan pemikiran naif dari seorang pria yang kini sedang memberikan senyuman menjengkelkan dihadapannya.

“Di tempat ini aku dicintai, tapi masih merasakan sakit hati. Aku makan banyak, tetapi masih merasa lapar, aku tidur dengan nyaman, tapi rasa kantuk itu akan terus datang”. Ya, memang manusia akan terus merasakan itu, kan? Namanya juga hidup. Batin anak perempuan itu di dalam hatinya. “Justru itulah jawabannya. Ketika aku tidak dikendalikan oleh aturan, ketika aku berada di antara keluarga, atau ketika aku menjadi raja di dalam rumah, apakah aku tidak akan mengeluh? Bahkan setelah makan, minum, dan istirahat pun aku masih membutuhkannya dan ternyata hingga saat ini aku masih bisa mendapatkannya”.

“Apakah tujuanmu menjabarkan hal-hal nikmat yang pada dasarnya bisa kudapat? Ah, tanpa kau mendiktekannya untukku pun, aku sudah mengetahuinya. Aku sudah hampir setengah abad menjalani hidup, sedangkan kau? Dua dekade saja belum kau lalui. Hal nikmat apalagi yang belum pernah aku nikmati? Sudahlah, jangan membuatku membayangkan hal-hal nikmat lagi. Aku ini manusia, rasa puasku tidak ada batasnya; keterlaluan. Jangan kau jatuhkan semangat yang sudah kubangun dengan susah payah”. Pembicaraan itu berakhir, anak perempuan itu berhenti dengan senyuman, tujuannya terselesaikan.

Kamis, 11 Mei 2017

Kesalahan; Ketahuan

Beberapa bulan ke belakang kita dibuat gerah oleh issue yang katanya SARA. Saya mendapat inspirasi ini sesaat ketika saya sudah membuat story di akun instagram saya dengan caption “Memercayai-Nya habis-habisan”. Kata-kata tersebut saya dapat dari salah satu buku yang belakangan saya baca – yang amat sangat “menampar” saya. Namun, buah pikiran seperti ini saya dapat ketika issue tersebut pertama kali menjejali televisi dan cerita-cerita di dunia maya.
Saya akan coba mengupas perkara ini dari sudut pandang saya pribadi sebenarnya. Tapi, saya mengajak pembaca memposisikan diri sebagai masa pendukung Ahok dan masa penolak Ahok. Saya usahakan tidak menyinggung issue SARA yang menjadi polemik – Tapi, da gimana atuh, ya? Masalahnya juga masalah SARA. Kalo kata anak-anak milenial yang beranjak dewasa “kita jalani dulu aja”, maka sesantai minum kopi ngemil roti kita perlu membacanya. Usahakan bahwa kamu membaca ini dalam posisi yang netral dan hanya membela apa yang benar-benar benar. Baca hingga titik terakhir, simpulkan dengan bijak, dan lakukan hal yang menjadi bagianmu.
Salah satu dosen saya pernah mengangkat bahasan ini di jam perkuliahan yang saya tidak hafal persis apa mata kuliahnya dan siapa dosennya. Namun, saya ingat benar apa yang dikatakan beliau, karena saya merasa terganggu dengan sikapnya mengangkat obrolan yang dapat memancing orang-orang untuk tidak menyukai seseorang di depan umum – apalagi orang tesebut adalah seorang pendidik. Namun, ternyata apa yang dikatakan dosen tersebut ada bahkan banyak benarnya, bahwa "Setiap orang memiliki harkat dan martabat yang harus dijaga".
Mari kita lihat prestasi Pak Ahok memajukan Jakarta. Saya adalah salah satu orang yang selalu mengikuti hal-hal viral dan fenomenal yang Pak Ahok buat; debat wagub, aksinya dalam merelokasi kawasan Kalijodo (yang sekarang sudah menjadi taman Kota), bahkan kehangatan  dan kelucuan rumah tangganya dalam beberapa talkshow di berbagai stasiun tivi. Sungguh! Pak Ahok amat sangat berprestasi dan hangat bahkan kinerjanya nyaris tak ada cela.
Beliau adalah suami dan ayah yang sudah kelelahan namun masih sempat momong anak bungsunya di rumah, beliau adalah gubernur yang melakukan bottle flip challenge dengan wakilnya dan rela “salim” ketika kalah, beliau adalah gubernur yang kepikiran memerhatikan keamanan high heels yang dipakai kaum hawa di jalanan raya, beliau adalah gubernur yang berusaha mencegah pelecehan seksual di bus dengan mencoba menumpangi bus itu sendiri dengan istrinya dan mengatur posisi duduk yang aman bagi kaum pengguna rok yang seringnya terlalu takut untuk "menindak" orang yang melecehkannya, dan beliau adalah gubernur yang bekerjasama dan memilih orang-orang yang tepat untuk menciptakan program-program yang tidak hanya inovatif, tapi juga tepat guna bagi warga yang beliau pimpin.
Namun, nampaknya segala kelebihan yang tidak dapat saya tuliskan semuanya ini tidak dapat menghapuskan satu kekurangan yang acapkali menjatuhkan beliau; blak-blakan. Siapa yang tidak tahu cara beliau memimpin dan menegur pekerja-pekerjanya? Bahkan, beberapa diangkat dalam media massa. Dianggap tepat, karena pada akhirnya mereka yang melakukan kesalahan tersebut merasa jera dan saya pikir tidak mau lagi melakukannya.
Tapi, pak, sebagai seseorang yang sebenarnya sangat mengagumi kinerja Anda, dengan hormat saya mau mengatakan bahwa yang Bapak sudah pimpin dan tegur itu adalah manusia. Manusia yang memiliki harkat dan martabat, manusia yang dipaksa mengakui kesalahannya di depan umum dan disaksikan oleh keluarganya, manusia yang masih ingin diperlakukan dengan cara yang manusiawi walau sudah melakukan kesalahan berat sekalipun, manusia - yang tidak sedikit - kehilangan pekerjaannya, dan manusia dimana anak-anaknya memutuskan untuk tidak sekolah karena dibully setelah melihat orang tuanya ditegur dan "masuk" tivi.
Memang, kalau kita tidak mau diperlakukan seperti itu, maka kita jangan melakukan kesalahan. Namun, disini masalahnya setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan. Bedanya, hanya ketahuan atau tidak. Tapi, coba saya tanya, siapakah diantara pembaca yang merelakan dirinya untuk dipermalukan di depan umum atas kesalahan yang ia perbuat? Saya sih, tidak.
Mungkin kita menganggap bahwa itu adalah cara yang tepat untuk "memberi pelajaran" pada para pembelot negara dan cara yang tepat untuk "mendidik Warga Jakarta" dan saya akui bahwa cara tersebut banyak berhasilnya. Tapi, kita tidak dapat menutup mata kita dari kasus besar yang menjerat beliau akibat sikap blak-blakan-nya tadi.

Kasus penistaan agama. Sedap dan mantap sekali dengan menggunakan kata menistakan. Jujur, sampai saat ini saya masih berharap ada dasar yang kuat yang dapat mendefinisikan makna dari kata menistakan itu sendiri. Karena, jika benar apa yang dilakukan Pak Ahok adalah menistakan agama, maka saya berani menyebutkan beberapa orang yang melakukan hal yang lebih parah dari yang Pak Ahok lakukan kepada saya atau keluarga saya. Bahkan, saya bisa mengajak beberapa orang lain yang juga mengalaminya, namun bukan disini; pengadilan mungkin? Atau, tidak perlulah. Saya yang memerlukan perlindungan Tuhan, bukan Tuhan yang memerlukan sekadar pembelaan dari saya.
Tapi, saya pun tidak dapat memungkiri bahwa mungkin saya bisa menuliskan hal seperti ini karena yang dianggap dinistakan itu bukan agama saya. Saya mencoba menempatkan diri sebagai kaum saudara dan berpikir akan ada diposisi manakah saya? Posisi yang dengan bijak memikirkan "apakah yang Bapak Ahok lakukan itu adalah benar-benar penistaan?" Atau posisi yang mengatakan "Apa yang beliau lakukan adalah bentuk penistaan".
Saya sedikit banyak mengikuti persidangan dengan saksi-saksi yang saya anggap kurang akurat, maaf. Saya pun sedikit banyak menyaksikan video pidato beliau di pulau seribu. Saya berpikir, jika saya ada disitu, saya tidak akan menyangka bahwa yang beliau lakukan adalah penistaan. Saya berpikir, yang beliau lakukan adalah mengumpamakan. Karena, cara termudah yang dapat dilakukan untuk mengajarkan pelajaran baru pada seorang petani adalah dengan cara menggunakan istilah-istilah pertanian, bukan politik karena hanya sedikit yang akan memahaminya.
Mayoritas warga disana beragama tertentu, maka beliau menggunakan perumpaan agar mudah dimengerti. Bahkan, saya menarik pelajaran bahwa kita tidak boleh berusaha menjatuhkan seseorang berlabelkan kitab suci dan saya yakin maksud beliau bukanlah demikian. Namun, tetap saja niat salah dilakukan dengan cara yang benar maka akan menjadi salah. Begitu juga dengan niat benar dilakukan dengan cara yang salah juga akan menjadi salah. Semuanya harus tepat; harus pas.
Kembali dengan statement awal, "Memercayai-Nya habis-habisan". Memercayai Dia yang Maha Apa Saja untuk berkehandak pada diri kita manusia. Baik yang kita alami itu adalah kejadian yang menyenangkan kita atau tidak. Percaya sajalah, kalau memang Dia mengatakan Pak Ahok harus dipenjara, ya harus. Jika tidak, dari awal juga Dia yang Maha Apa Saja ini punya banyak cara untuk mencegahnya.
His will be done! Apa yang Ia kehendaki akan terjadi atau lebih tepatnya harus terjadi. Empati yang terlalu berlebihan bahkan dengan melakukan pembelaan pada suatu kesalahan malah menjadi bentuk protes keras kita pada apa yang menjadi kehendak Tuhan. Kita cukup hanya bersaksi tentang kelebihannya tanpa mengabaikan kelalaian yang tidak sengaja beliau lakukan. Jika apa yang kita lakukan tidak berhasil, maka yasudah percaya sajalah!
Pasti. Pasti ada tujuan dan pelajaran atas setiap kejadian . Seperti yang saya katakan tadi, saya bukanlah orang yang tidak pernah dinistakan. Mungkin para pembaca pun pernah mengalaminya, bedanya hanyalah ketahuan atau tidak. Tapi, jangan menunggu sampai ketahuan dulu baru tidak melakukannya. Kita harus benar-benar tidak melakukannya.
Ini pun menjadi pelajaran bagi kita untuk lebih menjaga diri kita dari sengat-sengat dunia yang berusaha menghancurkan apa yang terlihat "manis untuk dimakan". Indonesia adalah negara yang kaya raya. Indonesia adalah negara yang dilirik segala bangsa. Karena potensi alam yang dimilikinya, banyak negara yang ingin "kecipratan" untungnya.
Usaha-usaha merusak sumber daya alam malah akan merugikan. Oleh karena itu, sumber daya manusianyalah yang menjadi sasaran melalui issue perpecahan. Jika usaha ini berhasil, ya bayangkanlah saja sendiri apa risikonya. Karena sekarang belum bisa terlihat, mungkin kita bisa memuaskan diri untuk mencibir sana sini, untuk antipati akan ini dan itu. Tapi, kalau sudah kejadian, kita akan sadar bahwa kita membutuhkan satu sama lain.
Seperti yang kita tahu, setiap agama pasti mengajarkan apa yang baik. Termasuk melakukan segalanya dengan kasih. Ambilah sisi positifnya, mungkin saja ini cara-Nya memberi ruang pada Pak Ahok untuk rehat sejenak dan suatu saat kembali siap memimpin dengan cara yang lebih tepat; dengan kasih.
Saya pribadi tidak mau menjadi seorang pahlawan atas diri saya maupun kepercayaan saya. Karena, saya sendiri pun masih melakukan kesalahan dan masih butuh Tuhan. Bagaimana saya dapat membela-Nya? Jika saat berdoa saja saya masih memohon ini itu pada-Nya. Apa hebatnya saya dibanding Dia? Sehingga saya mau melakukan hal-hal untuk membela-Nya. Saya kosong sama sekali.
Maka dengan segala kerendahan hati, dengan ketanangan hati, saya mengajak kaum muda yang cinta Indonesia untuk cukup saja mendoakan negara kita, pemimpin-pemimpin kita, dan dampak baik apa dapat kita ciptakan atas pencapaian yang kita buat. Saya mengasihi siapapun yang membaca tulisan ini.