Mama pernah berkata “Jangan pernah menjalani hidupmu tanpa berdoa”. Lalu, ajaran itu menggema dan menjadi gaya. Mendarah, menjadi daging, dan aku hidup. Aku doakan, doakan, doakan, hingga akhirnya menjelma sebagai sebuah diskusi dengan Tuhan. Kalau saja Tuhan manusia biasa, mungkin Dia sudah bosan. Aku anaknya keras kepala, lebih banyak ngeyel daripada nurutnya. Selama ini, kukira aku sudah jalani hidup yang benar dan taat, ternyata perasaanku saja.
Aku mendoakan seseorang yang aku anggap paling tepat, entah sudah berapa banyak. Seseorang yang sepertinya membutuhkanku, keluarganya pun begitu. Aku mendoakan orang yang aku anggap paling tepat lainnya, namun ternyata memang bukan hanya kasih sayang, aku juga butuh penghargaan. Lagi, aku menjalani suatu hubungan dengan orang yang benar-benar sayang, namun hubungan itu penuh ancaman.
“Tuhan, sepertinya dia. Boleh, ya?”, Ia izinkan. “Tuhan, yang kemarin gagal. Kini aku rasa sudah mendapat yang tepat”, Ia beri jalan. Begitu selanjutnya, hingga aku jatuh dan malah semakin jatuh tanpa menemukan apa yang benar-benar aku doakan. Tidak trauma, aku hanya enggan membuang-buang waktuku lagi dengan satu hubungan yang salah. Suatu hubungan yang hanya berputar di tempat, lebih menyakitkan karena hanya akulah yang berputar sendirian.
Aku izinkan diriku beristirahat, menyerahkan waktuku hanya untuk diriku. Katanya, sebelum menemukan seorang yang mengasihimu, terlebih dahulu kamu harus mengasihi dirimu sendiri. Aku beri jalan untuk diriku dapat mengasihi dirinya, sembari mendokan apa yang menjadi kerinduan. Percayalah, aku jatuh lagi. Aku jatuh, namun tidak berani menyalahkan siapa-siapa. Sekali lagi, karena taatku pada Tuhan hanya sebatas perasaan.
Diskusi itu berkembang menjadi satu perbincangan tawar-menawar. Kupikir, apa Tuhan terlalu sibuk menyediakan apa yang diperlukan orang? Atau karena aku anak yang membangkang? Sehingga Ia kapok memberikan apa yang aku butuhkan. Kenapa Tuhan selalu terlalu terlihat sibuk? Seketika pula aku ingat, sekolahku, keluargaku, hidup-matiku semua aman dalam tangan-Nya. Apalagi yang layak aku minta? Dasar aku si tidak tahu diri.
Sejak itu aku kapok, kapok mendesak Tuhan. Aku mulai ganti gaya, aku menjamah Ia. Aku pikirkan sebuah keluarga, aku lihat bagaimana hubungan anak dan orang tua, lalu aku mulai memikirkan rekan seperti apa yang aku butuhkan? Seorang lelaki yang takut dan memprioritaskan Tuhan, yang mengasihi ibu dan saudara perempuannya, yang bertanggungjawab dan dapat berkomitmen, yang mengasihi serta mau berkorban untukku. Apa itu muluk-muluk? Tidak, karena aku tahu, Ia akan memilih wakil terbaik-Nya untuk membantuku disini.
Semuanya itu memakan waktu. Namun ajaibnya, ketika aku menunggu dan mendoakan, aku sama sekali tidak merasa bosan. Kejadianku luar biasa. Berkali-kali aku rasa, sangat luar biasa. Aku tahu, tujuan-Nya sangat baik, untuk kebaikanku. Aku tahu, Ia menjaga apa yang aku taruhkan, setidaknya begitu kalau kata lagu. Aku tahu, ketika aku sibuk mempersiapkan diriku menjadi yang terbaik, Ia pun sibuk mempersiapkan waktu, cara, dan manusia yang terbaik pula. Hanya untukku, anak kesayangan-Nya, salah satu anak kesayangan-Nya.
Hadiah waktu, Ia memberikan hadiah itu dalam waktu, dengan cara, dan bersama orang yang memang tidak aku duga. Seseorang yang baru kusadari kelebihannya – justru – ketika aku melewati masalah dengannya. Seseorang yang menyediakan hubungan yang sempurna untukku. Sempurna karena ada marah, kesal, perdebatan, dan kecewa di dalamnya. Sempurna, karena walau kami harus merasakan itu semua, kami tidak pernah lupa mengucap syukur, menjadi seapa adanya, merasakan sukacita – lebih-lebih damai sejahtera.
Layaknya kepingan puzzle, garis kami rumit – tidak lurus. Butuh dibongkar-pasang dan koreksi sana-sini untuk memeroleh gambar yang pas. Bukan perkara mudah, karena ternyata kepingan yang ada terlalu banyak yang berbeda. Tapi, dari situlah kami menyadari, bahwa yang kami butuhkan bukanlah yang sempurna, namun yang mau berusaha. Saling mengusahakan, itulah yang membuat suatu hubungan berjalan.
Banyak sekali perbedaan, terlalu banyak perbedaan. Tidak jarang berujung pada pertengkaran, rasa ketidak percayaan diri, dan banyak rasa bersalah. Namun akhirnya aku sadar, itulah yang kita butuhkan. Aku dan kamu sama-sama membutuhkan seseorang yang sama sekali bukan aku dan kamu. Lemahku, itulah kekuatanmu. Lalaimu, itulah kelebihanku. Kita saling mengingatkan tanpa lupa berkaca, tanpa lupa membenahi jiwa. Itulah hubungan, mengisi kekosongan dan mengampuni kekurangan.
Sedikit naif memang, aku membawa-bawa Tuhan dalam tulisan yang sebenernya bukan tulisan bertemakan kerohanian. Tapi, ini memang tentang apa yang aku alami, tentu tidak menjadi masalah. Bahkan aku sadar, apa yang aku jalani ini pun masih dalam tahap “pertaruhan”. Pertaruhan tentang bagaimana akhir dari suatu hubungan, bedanya aku menambahkan iman di dalamnya.
Ketika aku menuliskan ini, bukan berarti aku sudah menjadi perempuan yang baik sehingga aku mengatakan pula bahwa Ia telah memberikan yang terbaik. Tapi aku yakin, inilah hadiah waktuku. Hadiah dari masa lalu yang sempat mengecewakan dan terasa sia-sia. Apabila suatu saat hadiah waktuku ini harus kutaruhkan kembali, aku akan mengingat – setidaknya dulu aku pernah menjadi yang terindah dan menjalani waktu hidup yang indah.
Aku tidak pernah menyesali apa yang terjadi. Anggap saja, itu merupakan jalan dan cara didikan dari Tuhan. Aku bersyukur dengan setiap proses aku harus jatuh, jatuh, dan jatuh, karena ketika aku tahu rasa sakitnya, aku menjadi semakin tangguh. Kenapa nikmatnya bukan dari dulu kalau begitu? Percayalah, semuanya akan berbeda jika bukan tepat pada waktu-Nya. Jadi, ketika kini aku baru merasakannya, ya memang karena aku sudah pantas merasakannya.
Ketika suatu saat siapa pun boleh kembali membaca tulisan ini, percayalah bahwa masa lalu, kini, dan masa depanmu akan baik-baik saja. Jagalah apa yang ada, syukuri apa yang pernah terjadi, dan perjuangkan apa yang akan kau raih nanti. Setidaknya, aku sudah mendapatkan hadiah waktuku, semoga ini bagianku. Apabila bukan, akan aku jadikan pelajaran bahwa aku pernah memiliki masa yang sangat layak untuk dikenang.
Saat ini – dan aku meminta restu hingga nanti – izinkanlah aku menjadi rekan doamu, seseorang yang bebas mengasihimu. Terimakasih sudah bersedia meruntuhkan pertahanan dirimu. Terimakasih untuk tetap menjadi dirimu, hanya dirimu versi yang lebih baik. Aku tahu, tidak gampang, tapi kita menang. Masih mau berjuang denganku, kan?