Minggu, 20 November 2016

Kerajaan Pinggir Jalan

Tulisan ini untuk kesepian yang sedang berjejal dalam keramaian. Untuk kamu, yang tengah diam dalam kerumunan kendaraan sambil melihat barisan rumah dan bangunan. Aku adalah bagian dari kesesakan itu. Aku mungkin salah satu yang sedang menikmati hangatnya matahari senja bersamamu, dalam diam, diantara keramaian.

Suatu hari nanti, ada beberapa saat yang akan kita rindukan walau dalam kesunyian. Aku menyukai langit senja, aku menyukai dinginnya malam. Tapi, aku mengeluh akan hal itu. Aku mengeluh ketika aku terpaksa menikmati gradasi dan sepoy anginnya dalam kelelahan. Sedangkan, aku juga akan merindukan tiap saat aku dapat menikmatinya. Semoga Tuhan mengampuni.

Sore ini, kembali aku harus berkutat dengan kemacetan jalan. Dalam balutan seragamku, aku selalu tertarik memerhatikan orang di jalanan. Entah mengapa. Tapi, manusia selalu memiliki mimik yang unik dan menarik. Tak jarang aku tersenyum karenanya. Banyak juga drama cinta, persahabatan, prahara, dan perjalanan hidup di dalamnya. Pemandangan yang melukiskan senyum berbalut kesuntukan secara bersamaan.

Perjalanan satu setengah jam menuju rumah yang selalu aku nikmati, seharusnya. Terlalu banyak hal baru yang aku dapatkan di jalanan. Namun, aku mengeluh dan menangis ketika aku teringat tugas yang memanggil untuk diselesaikan, ketika aku ingat perut yang belum diberi makan, ketika aku muak dengan rumitnya suatu hubungan, dan ketika aku ingat, bahwa hati dipenuhi rasa syukur yang harus diungkapkan. Manusia – maksudnya aku – sering terlalu peka terhadap masalah yang terlihat daripada makna yang tersirat.

Sebelum maghrib, aku biasa melewati satu jalan ramai namun cukup sempit yang menjadi salah satu penghubung diantara dua kota. Mungkin, beberapa orang tahu daerah yang aku maksud. Beberapa bulan terakhir, daerah tersebut menjadi salah satu daerah yang aku rindukan. Jujur, tidak berlebihan. Ada ciptaan Tuhan yang sengaja ditempatkan untuk mengingatkan dan menegurku, bernama keluarga.

Mereka yang menghiasi perjalanan pulangku di sore hari. Entah sejak kapan, tapi aku baru mengetahuinya kurang lebih empat bulan terakhir ini. Ayah, ibu, dan tiga orang anaknya. Usianya rata-rata masih dibawah enam tahun, keluarga muda pikirku. Keluarga muda bukan hanya karena usia anaknya. Tapi, karena kualitas hubungan yang kusaksikan.

Kembali membahas daerah yang kumaksud, daerah ini tidak dapat disebut daerah kumuh. Rumah dinas, pusat perbelanjaan, dan sebuah bangunan apartemen yang baru didirikan, tempat kaum elitis bercengkrama sambil membeli kopi dengan harga luar biasa. Lalu, mereka ada disitu; keluarga muda yang seakan tak acuh terhadap jejalan polusi suara dan udara yang sesungguhnya menyesakan dada.

Aku jatuh cinta pada pemandangan ini. Ayah dan ibu mengasuh dua orang anak sambil menyuapi mereka dengan panganan dari bungkusan nasi. Lauk pauk sederhana, aku lihat hanya dua iris tempe, sambal, dan sekali pernah aku liat ada ikan goreng di dalamnya. Makan mereka lahap, sepertinya enak. Sedangkan disebelahnya si bungsu didudukan di dalam “rumah” tanpa lupa mendapat suapan juga dari sang ibu. Mungkin dia masih belajar jalan, sehingga lebih aman jika tidak turun dari naungan, yang mereka sebut rumah - yang kusebut gerobak.

Aku sangat tertarik dan rasa-rasanya ingin ikut terlarut dalam setiap pembicaraan dan canda tawa yang tidak pernah absen dari pertemuan sore itu. Aku tidak pernah tahu, apakah mereka memiliki rumah atau tidak, atau mungkin saja gerobak itulah satu-satunya harta yang mereka miliki. Karena pakaian, tas, makanan, bahkan bantal lusuh pun ada di dalamnya. Rumah berjalan, atau lebih tepat kusebut istana.

Bagaimana tidak? Merekalah yang memiliki jalanan, itulah kerajaan mereka. Mungkin, yang mereka lakukan setiap hari adalah bertamasya berkeliling kota, sekeluarga. Pekerjaan mereka adalah hiburan mereka. Bahkan, pasti ada beberapa hal yang mereka dapatkan dan tidak bisa kuraih karena setumpuk aktivitas yang melelahkan yang nyatanya harus aku jalani.

Mereka menjalani pekerjaan dan liburan mereka bersamaan, setiap harinya. Sedangkan aku – kita – disibukan dengan upaya-upaya mempertahankan kehidupan, tanpa tahu bagaimana cara menikmatinya. Kita hanya tahu bagaimana mengumpulkan, bertahan, menyelesaikan, lalu mengulanginya terus, yang berujung pada kejenuhan.
Aku selalu tiba di rumah dengan keadaan lelah. Waktu yang kuhabiskan di jalan saja sudah cukup membuatku penat. Belum lagi omelan mama yang sudah menjabarkan setumpuk pekerjaan rumah yang hendak melepas rindunya denganku. Aku mengeluh akan rutinitas yang aku jalani setiap hari. Padahal, hanya istanaku yang sederhana itulah yang dapat menjadi tempatku melepas lelah, kan?

Sekarang lihatlah! Hari-hariku berubah ketika keluarga dalam gerobak itu mengisinya. Inilah yang kusebut istana, merekalah yang empunya kerajaan. Mungkin, mereka pun mengeluh. Si anak tidak pernah menikmati nikmatnya memakai gaun bak putri raja yang menumpuk di lemariku ketika seusianya. Si ibu, mungkin tidak pernah merasakan bagaimana asiknya mengobrol santai sambil meminum teh manis seperti yang orang tuaku lakukan sambil menyambut senja. Ayah? Kulitnya sudah terlalu tebal untuk mengeluhkan teriknya matahari yang memayungi waktu-waktu produktifnya.

Tapi, lihatlah lahapnya mereka makan, lihatlah bahagianya si anak menyambut setiap suapan. Makanan sederhana yang membangkitkan saliva. Makanan sederhana yang tidak pernah aku rasa. Bagaimana mereka bisa sebahagia itu? Sedangkan aku saja harus makan dengan sayuran berkuah. Jika bersyukur, nasi memakai garam saja serasa steak bintang lima, bukan?

Inilah fenomena yang kusebut sebagai "Kerajaan Pinggir Jalan". Mereka kaya dan menjadi raja dengan cara mereka sendiri. Mereka bisa bahagia dengan apa yang mereka miliki. Mereka yang kita anggap tidak memiliki apa-apa, ternyata merekalah yang memiliki segalanya. Mereka yang mengajariku bahwa kebahagiaan yang sederhana itu ada dan nyata. Bukan hanya sekedar kata-kata dalam caption unggahan anak muda.

Inilah fenomena yang kusebut sebagai "Kerajaan Pinggir Jalan". Ketika si kaya sibuk berdebat bagaimana memperkaya diri, mereka ini bersyukur dengan satu suapan nasi. Mereka juga memiliki masalah, sama sepertiku, sama seperti kalian. Tapi, mengapa nafsu makan mereka bisa senikmat itu? Ungkapan syukur, itu jawabannya. Kata yang selalu aku isyaratkan dalam hati dan kata-kata yang selalu aku latih setiap hari. Bagian mana yang sulit? Tuhan sudah menganugerahkan semuanya, semuanya! Yang sulit hanya menyadarinya.

Inilah fenomena yang menegakan bungkuk badanku dalam kelelahan. Fenomena yang memberi teguran mulia - pada kita umat manusia - untuk tidak bertindak seperti seorang yang penuh kekhawatiran, namun hidup sebagai si merdeka yang dipelihara Tuhan.

Pada akhirnya, aku berterimakasih juga pada salah seorang kenalanku. Perbincangan ringan kami semalam kembali membakar semangatku. Tulisanku ini tentang sederhananya mengucap syukur, bukan? Karena itu, aku bersyukur melewati perbincangan semalam denganmu. Perbincangan tentang mengucap syukur, mengucap syukur atas waktu, atas masalah, atas kehidupan, dan kesempatanku membagikan tulisan ini.

Aku harus makan 4 sehat 5 sempurna. Mereka? Mencapai angka satu saja sudah bersukacita. Kualitasnya berbeda. Tapi, nyatanya hasilnya sama. Lalu, apa yang menjadi pembeda? Kedamaiam hati. Mereka memilikinya. Mereka tertawa ketika harus melewati aspal panas dan terik matahari, kita? Pikirkan. Itulah perbedaannya.

Saat ini aku tidak berbagi tentang bagaimana mereka harus tinggal dijalanan dan bagaimana kita harus menjadi tinggi dengan segala kepemilikan. Tapi, saat ini aku berbagi tentang bagaimana kita harus menjadi rendah dengan segala yang kita miliki dan menjadi kaya dengan segala yang Tuhan beri.

Senin, 11 Juli 2016

Agama Administrasi

Pagi-pagi benar segalanya telah siap. Perlente, perut yang telah diberi asupan sebaik mungkin agar tak menimbulkan jeritan-jeritan di jam kritis, serta otak yang telah segar meminta untuk diisi ulang.
Satu dua anak tangga terlewati beriringan dengan suara langkah kaki dari sepatu ber-hak tiga senti. Sebagian sudah hadir, tapi, apakah semua sudah siap?
Seorang yang berdiri disana bernama Wendy, perawakan yang sehat, kacamata minus, dan gendongan tas di punggung, cukup menggambarkan idealnya seorang mahasiswa. Sapa menyapa, basa basi sebagai pembuka, dan sedikit candaan tak terlewatkan untuk memulai satu pembicaraan.
Pemuda nasionalis, pemuda yang agamis, terasa gurih dan renyah. Pemanasan yang tidak ringan untuk ukuran anak seperti saya, yang malas membahas hal-hal yang cenderung menimbulkan perdebatan yang tidak masuk akal. Yang membedakan, saya dan Wendy satu aliran.
Ajakan untuk bergabung dengan sebuah komunitas mahasiswa pembela hak dan persatuan menjadi patahan kata pembuka perbincangan yang tak jelas ujungnya. Bergabung dalam satu komunitas yang tidak diidamkan bukanlah sebuah harapan yang ingin untuk dilaksanakan.
Berulang kali ungkapan-ungkapan penolakan dikemas dengan cara yang lebih halus untuk dapat menyatakan sebuah ketidak setujuan tanpa mengabaikan perasaan Wendy yang dengan antusias dan semangat membara memaparkan visi misi dan kecintaannya pada negeri yang indah ini, Indonesia. Tidak gombal, saya yakin.
Saya berusaha menunjukkan perasaan tertarik saya dengan balik bertanya tiap kali Wendy menjelaskan jengkal demi jengkal perjalanannya dalam komunitas yang belum lama ia dirikan. “Komunitas ini adalah komunitas yang nasionalis. Tanpa memandang suku dan agama, semuanya boleh bergabung".
“Lalu, bagaimana dengan yang tidak punya agama?” saya berusaha membuat sedikit lelucon untuk mencairkan suasana yang terlalu serius. “Tidak masalah, yang kita bela adalah kepentingan nasional. Semua kepentingan individu diusahakan di dalamnya untuk kebaikan bersama”. Saya amat sangat tercengang, malahan dengan tanggapan seriusnya, saya semakin dibuat heran. Niatan untuk menghindari perdebatan malah  saya timbulkan sendiri dengan pertanyaan yang saya anggap dapat menjadi lelucon.
Mencintai nusa dan bangsa. Seharusnya menjunjung tinggi falsafah negaranya. Tidak memiliki agama berarti telah berkhianat dan merenggut keperkasaan jabatan teratas dari KeTuhanan yang Maha Esa. Apa pun alasannya dan bagaimana pun caranya, sila ini memaksa warga negaranya untuk menyembah Tuhan yang satu.
Ada satu istilah yang disebutkan bahwa seseorang percaya ada Tuhan tetapi dia tidak mau menyembah Tuhan atau memeluk salah satu agama. Ada pun istilah yang menyebutkan bahwa dia tidak percaya Tuhan sama sekali. Bahkan yang membuat saya termotivasi untuk membagikan perbincangan saya ke dalam sebuah tulisan, yaitu: seseorang tersebut mengakui sebuah agama hanya untuk dapat menjalankan teknis persyaratan yang mengharuskannya mencantumkan nama keagamaannya tersebut. Sebut saja “agama administrasi”.
Sedikit menggelitik. Tapi, ketika saya izinkan diri saya berhenti sejenak untuk mencerna istilah tersebut, saya merasa ada ribuan tangan menggampar pipi dan mengguncangkan tubuh saya sehebat mungkin untuk menyadarkan saya. Apakah saya si pemeluk “agama administrasi tersebut”? Apakah Anda? Apakah ada yang merasa?
Saya akhiri perbincangan tersebut dengan izin masuk kelas untuk perkuliahan di jam 10.00 WIB. Sepanjang mata kuliah yang menarik itu, benak tak pernah menginzinkan saya untuk berhenti berpikir dan berdiskusi dengan istilah yang sungguh membuat saya berterimakasih kepada Wendy karena telah menjadi perantara teguran Tuhan, bahkan lewat satu pembahasan yang selalu saya hindari.

Sabtu, 20 Februari 2016

Isyarat Bardin

Bandung. Kota dengan sejuta pesona. Tempat kutuliskan kisahku. Kisah yang tidak ada rasa pilu, kisah yang tanpa warna kelabu. Kisah yang kutulis hanya untukmu. Hanya antara aku dan kamu.
00.38 WIB. “Asalkan dengan kamu, hanya sebatas ngeliatin city lights dari atas jembatan pasupati aja udah damai banget, Din. Selamanya begini, ya.” Perkataan itu terucap begitu saja ketika motor vespa antik melewati sepanjang jalan jembatan pasupati di malam hari. “Gausah berlebihan kamu, Ra. Sampai kapan pun city lights itu kan sama aja. Hal yang perlu kamu tahu, sesuatu yang indah itu pasti membawa kedamaian. Kamu itu indah, untuk apa nyari kedamaian dari tempat lain” sesederhana itu Bardin selalu berhasil membuatku mengagumi diriku sendiri.
Aku adalah aku. Aku yang selalu berhasil memikat jutaan pasang mata dengan pesona kulit eksotis khas Nusa Tenggara, suara emas layaknya artis ibukota, dan rambut hitam yang tergerai dengan megahnya. Entah cantik atau menarik, hanya inilah aku. Lasora Benaya, seorang gadis peranakan Timor Timur yang tidak mengetahui siapakah lelaki yang bertanggung jawab atas kelahiranku ke dunia ini.
Aku lahir dan dibesarkan dalam ketimpangan keluarga yang berusaha mempertahankan hidup dari yang hanya sekedar bisa makan, hingga bermimpi dapat menempuh pendidikan terbaik, dan memiliki kehidupan yang setidaknya berbeda dari kehidupan yang sekarang. Tanpa perlu dijelaskan, lambat laun aku mengetahui bahwa ibuku menjadi wanita simpanan bos-bos besar yang memiliki bisnis kelas dunia di kepulauan Sunda Kecil, bagian dari Negeri Indonesia.
Sebagian anak akan membenci sosok seorang ibu yang bertindak tidak selayaknya seorang ibu. Tiba di rumah hingga larut malam, tidak pulang dengan alasan banyak urusan yang belum diselesaikan, dan berpakaian layaknya pakaian yang kekurangan bahan, bukanlah gambaran wanita yang ingin kupanggil ibu. Tapi, itulah ibu yang selalu aku akui. Ibu yang menyempatkan bangun dini hari untuk menyiapkan sarapan anaknya dengan keadaan tak berdaya, ibu yang menampar anak tetangga dan bertingkah seperti orang sakit jiwa tat kala anak perempuannya bertengkar dengan alasan memperebutkan sebuah gula-gula, dan yang terpenting, dialah ibu yang rela menjual tubuhnya hanya untuk menghidupi aku, anaknya. Terlalu naif, memang. Tapi, harus bagaimana lagi? Yang kutahu, ibu tidak pernah memiliki kesempatan hidup layak semenjak keadaan memaksanya untuk menjadi tulang punggung keluarga, sebelum akhirnya kedua orang tuanya meninggalkan ia dalam kecelakan beruntun di hari ulang tahunnya. Di usia 25 tahun, ketika aku hampir naik ke kelas dua SD, ibu baru bisa membaca buku dengan lancar. Alasan yang masuk akal untuk pekerjaan yang dipilih ibu untuk menghidupiku, anaknya.
Bibi Mariane, seorang wanita dengan segala kelebihan dan kebaikannya menjadi teman yang sepadan untuk ibu. Tidak memiliki seorang pria yang menjadi teman untuk membesarkan anak, Ibu dan Bibi menjalani hidup dengan segala topeng ketegarannya. Ibu membayar biaya sewa rumah Bibi Marie dengan balas jasa menjagaku sepulang sekolah hingga ibu akan menjemputku lagi. Fagadi Bardin, anak lelaki yang menemani saat sedih dan senangnya bibi – saat sedih dan senangku juga – menjadi satu-satunya lelaki yang hadir dalam kehidupan kami. Dan hingga saat ini, Bardin, selalu menjadi yang teristimewa.
Ibu bilang, Bardin adalah anak keturunan India, ayahnya India. Pantas saja, Bardin memiliki kulit hitam manis dan hidung proposional yang tidak mirip sama sekali dengan ibunya yang berhidung mungil dan berkulit kuning khas minahasa. Ayah Bardin meninggal dunia dalam badai besar ketika menjalani hidup dalam kapal pesiar. Usia kami pada saat itu masih empat dan enam bulan. Oleh karena itu, tidak ada satu pun dari antara kami yang pernah melihat ayah kami satu sama lain. Impas.