Minggu, 31 Maret 2019

Karena Langit Punya Fajar

Seberkas cahaya, tanda sebuah harapan

Kau ada bukan untuk mengganggu istirahat orang

Kau ada untuk mengingatkan

Bahwa ada yang harus dijalani, bernama kehidupan


Kau muncul dengan keberanian,

Melawan gelap dan kengerian malam

Tak kalah seindah senja, kau menggemakan keindahan

Yang hanya dapat dinikmati oleh mereka yang mau berjuang


Bukan perkara cahaya yang berusia sementara

Tapi, fakta bahwa kau akan selalu ada

Biar kata orang tak memerhatikan pesonamu,

Hadir tepat waktu adalah tabiatmu


Kalau seorang mengakhiri lelah dan menutup malam,

Kau mendahului lelah itu, untuk menyambut bangun dengan terang

Kau lonceng yang membangunkan dunia,

Agar pagi disemangati oleh pasukan semesta


Kalau aku disuruh memilih,

Tak inginku menjadi bulan, yang tidak akan bertemu kamu

Tak inginku menjadi bumi, yang akan mati tanpamu

Tak inginku menjadi awan, yang terkadang menyamarkan cahayamu


Tapi, jadikanlah aku langitmu

Langit yang mau memperjuangkan hari bersamamu

Langit yang paling bersyukur diciptakan sebagai langit

Karena langit punya kamu.


Senin, 28 Januari 2019

Kediaman

Pikirku, kediaman adalah bentuk fisik dan bangunan
Pikirku, tak akan nyaman jika kutinggali berantakan
Nyatanya, dimana kamu merasa nyaman
Disitulah sebenar-benarnya kediaman

Lalu, ditengah jauhnya kegiatan dan rumah
Kebutuhanmu akan bertambah
Kamu akan membutuhkan apa yang membuatmu nyaman
Seorang yang selalu sedia menjadi kediaman
Seorang yang memberi nyaman, tepat saat kamu membutuhkan

Di dalamnya, kamu dapat menjadi salah
Namun, segera berbenah
Di dalamnnya, kamu dapat menjadi murni
Tapi, selalu dapat menjadi lebih baik lagi

Bayangkan, betapa rasanya hidup
Ketika kamu dapat menjadi manusia
Diizinkan merasa kesal, marah, dan lalai
Namun penghargaan tetap didapatkan

Bayangkan, ketika kamu berada dalam titik terendahmu
Kediamanmulah yang menjadi naungan
Dan ketika kamu meraih suksesmu
Kediamanmulah yang mengingatkan untuk jangan lupa daratan

Mungkin, kamu bertanya
Apakah ada kediaman seperti itu?
Kediaman berwujud seseorang yang sebijak itu?
Aku juga ragu. Tapi, itu dulu

Kediamanku begitu lapang
Memberi izinku untuk membuatnya berantakan
Memaklumkan, bahwa aku akan kembali merapikan
Aku rombak, dan dia izinkan
Demi kebaikan, katanya

Kediamanku bukan benda mati yang hanya bisa diam
Setiap sudutnya seakan terdapat cermin
Cermin yang merefleksikan aku di dalamnya
Sehingga yang diperbaiki jadi ada dua: aku dan dia

Rasanya sakit, tidak enak sama sekali
Helaan nafas dan jatuhnya air mata
Sesak karena terkadang aku bergelut dengan diriku
Bertanya, apa ini perlu?
Tidak apa. Demi kebaikan, katanya

Aku menemukan dan kehilangan diriku
Menemukan diriku yang lama bersembunyi malu
Dan kehilangan yang tidak seharusnya disitu
Secara iklhas, bersamaan, dalam kediaman

Tidak pernah aku merasa menjadi manusia
Tidak pernah serela ini menjalani hidup
Pun sedamai ini dengan diri sendiri

Kini aku menyukai diriku
Diriku yang lebih baik
Diriku yang selalu menjadi lebih baik
Di dalammu, bersamamu, kediamanku.

Minggu, 20 Januari 2019

Tepat Waktu

Mama pernah berkata “Jangan pernah menjalani hidupmu tanpa berdoa”. Lalu, ajaran itu menggema dan menjadi gaya. Mendarah, menjadi daging, dan aku hidup. Aku doakan, doakan, doakan, hingga akhirnya menjelma sebagai sebuah diskusi dengan Tuhan. Kalau saja Tuhan manusia biasa, mungkin Dia sudah bosan. Aku anaknya keras kepala, lebih banyak ngeyel daripada nurutnya. Selama ini, kukira aku sudah jalani hidup yang benar dan taat, ternyata perasaanku saja.

Aku mendoakan seseorang yang aku anggap paling tepat, entah sudah berapa banyak. Seseorang yang sepertinya membutuhkanku, keluarganya pun begitu. Aku mendoakan orang yang aku anggap paling tepat lainnya, namun ternyata memang bukan hanya kasih sayang, aku juga butuh penghargaan. Lagi, aku menjalani suatu hubungan dengan orang yang benar-benar sayang, namun hubungan itu penuh ancaman.

“Tuhan, sepertinya dia. Boleh, ya?”, Ia izinkan. “Tuhan, yang kemarin gagal. Kini aku rasa sudah mendapat yang tepat”, Ia beri jalan. Begitu selanjutnya, hingga aku jatuh dan malah semakin jatuh tanpa menemukan apa yang benar-benar aku doakan. Tidak trauma, aku hanya enggan membuang-buang waktuku lagi dengan satu hubungan yang salah. Suatu hubungan yang hanya berputar di tempat, lebih menyakitkan karena hanya akulah yang berputar sendirian.

Aku izinkan diriku beristirahat, menyerahkan waktuku hanya untuk diriku. Katanya, sebelum menemukan seorang yang mengasihimu, terlebih dahulu kamu harus mengasihi dirimu sendiri. Aku beri jalan untuk diriku dapat mengasihi dirinya, sembari mendokan apa yang menjadi kerinduan. Percayalah, aku jatuh lagi. Aku jatuh, namun tidak berani menyalahkan siapa-siapa. Sekali lagi, karena taatku pada Tuhan hanya sebatas perasaan.

Diskusi itu berkembang menjadi satu perbincangan tawar-menawar. Kupikir, apa Tuhan terlalu sibuk menyediakan apa yang diperlukan orang? Atau karena aku anak yang membangkang? Sehingga Ia kapok memberikan apa yang aku butuhkan. Kenapa Tuhan selalu terlalu terlihat sibuk? Seketika pula aku ingat, sekolahku, keluargaku, hidup-matiku semua aman dalam tangan-Nya. Apalagi yang layak aku minta? Dasar aku si tidak tahu diri.

Sejak itu aku kapok, kapok mendesak Tuhan. Aku mulai ganti gaya, aku menjamah Ia. Aku pikirkan sebuah keluarga, aku lihat bagaimana hubungan anak dan orang tua, lalu aku mulai memikirkan rekan seperti apa yang aku butuhkan? Seorang lelaki yang takut dan memprioritaskan Tuhan, yang mengasihi ibu dan saudara perempuannya, yang bertanggungjawab dan dapat berkomitmen, yang mengasihi serta mau berkorban untukku.  Apa itu muluk-muluk? Tidak, karena aku tahu, Ia akan memilih wakil terbaik-Nya untuk membantuku disini.

Semuanya itu memakan waktu. Namun ajaibnya, ketika aku menunggu dan mendoakan, aku sama sekali tidak merasa bosan. Kejadianku luar biasa. Berkali-kali aku rasa, sangat luar biasa. Aku tahu, tujuan-Nya sangat baik, untuk kebaikanku. Aku tahu, Ia menjaga apa yang aku taruhkan, setidaknya begitu kalau kata lagu. Aku tahu, ketika aku sibuk mempersiapkan diriku menjadi yang terbaik, Ia pun sibuk mempersiapkan waktu, cara, dan manusia yang terbaik pula. Hanya untukku, anak kesayangan-Nya, salah satu anak kesayangan-Nya.

Hadiah waktu, Ia memberikan hadiah itu dalam waktu, dengan cara, dan bersama orang yang memang tidak aku duga. Seseorang yang baru kusadari kelebihannya – justru – ketika aku melewati masalah dengannya. Seseorang yang menyediakan hubungan yang sempurna untukku. Sempurna karena ada marah, kesal, perdebatan, dan kecewa di dalamnya. Sempurna, karena walau kami harus merasakan itu semua, kami tidak pernah lupa mengucap syukur, menjadi seapa adanya, merasakan sukacita – lebih-lebih damai sejahtera.

Layaknya kepingan puzzle, garis kami rumit – tidak lurus. Butuh dibongkar-pasang dan koreksi sana-sini untuk memeroleh gambar yang pas. Bukan perkara mudah, karena ternyata kepingan yang ada terlalu banyak yang berbeda. Tapi, dari situlah kami menyadari, bahwa yang kami butuhkan bukanlah yang sempurna, namun yang mau berusaha. Saling mengusahakan, itulah yang membuat suatu hubungan berjalan.

Banyak sekali perbedaan, terlalu banyak perbedaan. Tidak jarang berujung pada pertengkaran, rasa ketidak percayaan diri, dan banyak rasa bersalah. Namun akhirnya aku  sadar, itulah yang kita butuhkan. Aku dan kamu sama-sama membutuhkan seseorang yang sama sekali bukan aku dan kamu. Lemahku, itulah kekuatanmu. Lalaimu, itulah kelebihanku. Kita saling mengingatkan tanpa lupa berkaca, tanpa lupa membenahi jiwa. Itulah hubungan, mengisi kekosongan dan mengampuni kekurangan.

Sedikit naif memang, aku membawa-bawa Tuhan dalam tulisan yang sebenernya bukan tulisan bertemakan kerohanian. Tapi, ini memang tentang apa yang aku alami, tentu tidak menjadi masalah. Bahkan aku sadar, apa yang aku jalani ini pun masih dalam tahap “pertaruhan”. Pertaruhan tentang bagaimana akhir dari suatu hubungan, bedanya aku menambahkan iman di dalamnya.

Ketika aku menuliskan ini, bukan berarti aku sudah menjadi perempuan yang baik sehingga aku mengatakan pula bahwa Ia telah memberikan yang terbaik. Tapi aku yakin, inilah hadiah waktuku. Hadiah dari masa lalu yang sempat mengecewakan dan terasa sia-sia. Apabila suatu saat hadiah waktuku ini harus kutaruhkan kembali, aku akan mengingat – setidaknya dulu aku pernah menjadi yang terindah dan menjalani waktu hidup yang indah.

Aku tidak pernah menyesali apa yang terjadi. Anggap saja, itu merupakan jalan dan cara didikan dari Tuhan. Aku bersyukur dengan setiap proses aku harus jatuh, jatuh, dan jatuh, karena ketika aku tahu rasa sakitnya, aku menjadi semakin tangguh. Kenapa nikmatnya bukan dari dulu kalau begitu? Percayalah, semuanya akan berbeda jika bukan tepat pada waktu-Nya. Jadi, ketika kini aku baru merasakannya, ya memang karena aku sudah pantas merasakannya.

Ketika suatu saat siapa pun boleh kembali membaca tulisan ini, percayalah bahwa masa lalu, kini, dan masa depanmu akan baik-baik saja. Jagalah apa yang ada, syukuri apa yang pernah terjadi, dan perjuangkan apa yang akan kau raih nanti. Setidaknya, aku sudah mendapatkan hadiah waktuku, semoga ini bagianku. Apabila bukan, akan aku jadikan pelajaran bahwa aku pernah memiliki masa yang sangat layak untuk dikenang.

Saat ini – dan aku meminta restu hingga nanti – izinkanlah aku menjadi rekan doamu, seseorang yang bebas mengasihimu. Terimakasih sudah bersedia meruntuhkan pertahanan dirimu. Terimakasih untuk tetap menjadi dirimu, hanya dirimu versi yang lebih baik. Aku tahu, tidak gampang, tapi kita menang. Masih mau berjuang denganku, kan?