Senin, 11 Juli 2016

Agama Administrasi

Pagi-pagi benar segalanya telah siap. Perlente, perut yang telah diberi asupan sebaik mungkin agar tak menimbulkan jeritan-jeritan di jam kritis, serta otak yang telah segar meminta untuk diisi ulang.
Satu dua anak tangga terlewati beriringan dengan suara langkah kaki dari sepatu ber-hak tiga senti. Sebagian sudah hadir, tapi, apakah semua sudah siap?
Seorang yang berdiri disana bernama Wendy, perawakan yang sehat, kacamata minus, dan gendongan tas di punggung, cukup menggambarkan idealnya seorang mahasiswa. Sapa menyapa, basa basi sebagai pembuka, dan sedikit candaan tak terlewatkan untuk memulai satu pembicaraan.
Pemuda nasionalis, pemuda yang agamis, terasa gurih dan renyah. Pemanasan yang tidak ringan untuk ukuran anak seperti saya, yang malas membahas hal-hal yang cenderung menimbulkan perdebatan yang tidak masuk akal. Yang membedakan, saya dan Wendy satu aliran.
Ajakan untuk bergabung dengan sebuah komunitas mahasiswa pembela hak dan persatuan menjadi patahan kata pembuka perbincangan yang tak jelas ujungnya. Bergabung dalam satu komunitas yang tidak diidamkan bukanlah sebuah harapan yang ingin untuk dilaksanakan.
Berulang kali ungkapan-ungkapan penolakan dikemas dengan cara yang lebih halus untuk dapat menyatakan sebuah ketidak setujuan tanpa mengabaikan perasaan Wendy yang dengan antusias dan semangat membara memaparkan visi misi dan kecintaannya pada negeri yang indah ini, Indonesia. Tidak gombal, saya yakin.
Saya berusaha menunjukkan perasaan tertarik saya dengan balik bertanya tiap kali Wendy menjelaskan jengkal demi jengkal perjalanannya dalam komunitas yang belum lama ia dirikan. “Komunitas ini adalah komunitas yang nasionalis. Tanpa memandang suku dan agama, semuanya boleh bergabung".
“Lalu, bagaimana dengan yang tidak punya agama?” saya berusaha membuat sedikit lelucon untuk mencairkan suasana yang terlalu serius. “Tidak masalah, yang kita bela adalah kepentingan nasional. Semua kepentingan individu diusahakan di dalamnya untuk kebaikan bersama”. Saya amat sangat tercengang, malahan dengan tanggapan seriusnya, saya semakin dibuat heran. Niatan untuk menghindari perdebatan malah  saya timbulkan sendiri dengan pertanyaan yang saya anggap dapat menjadi lelucon.
Mencintai nusa dan bangsa. Seharusnya menjunjung tinggi falsafah negaranya. Tidak memiliki agama berarti telah berkhianat dan merenggut keperkasaan jabatan teratas dari KeTuhanan yang Maha Esa. Apa pun alasannya dan bagaimana pun caranya, sila ini memaksa warga negaranya untuk menyembah Tuhan yang satu.
Ada satu istilah yang disebutkan bahwa seseorang percaya ada Tuhan tetapi dia tidak mau menyembah Tuhan atau memeluk salah satu agama. Ada pun istilah yang menyebutkan bahwa dia tidak percaya Tuhan sama sekali. Bahkan yang membuat saya termotivasi untuk membagikan perbincangan saya ke dalam sebuah tulisan, yaitu: seseorang tersebut mengakui sebuah agama hanya untuk dapat menjalankan teknis persyaratan yang mengharuskannya mencantumkan nama keagamaannya tersebut. Sebut saja “agama administrasi”.
Sedikit menggelitik. Tapi, ketika saya izinkan diri saya berhenti sejenak untuk mencerna istilah tersebut, saya merasa ada ribuan tangan menggampar pipi dan mengguncangkan tubuh saya sehebat mungkin untuk menyadarkan saya. Apakah saya si pemeluk “agama administrasi tersebut”? Apakah Anda? Apakah ada yang merasa?
Saya akhiri perbincangan tersebut dengan izin masuk kelas untuk perkuliahan di jam 10.00 WIB. Sepanjang mata kuliah yang menarik itu, benak tak pernah menginzinkan saya untuk berhenti berpikir dan berdiskusi dengan istilah yang sungguh membuat saya berterimakasih kepada Wendy karena telah menjadi perantara teguran Tuhan, bahkan lewat satu pembahasan yang selalu saya hindari.

Saya berpikir bahwa memang saya memercayai eksistensi dan kontribusi Tuhan dalam hidup saya, saya memeluk sebuah agama dan berusaha menjalankan apa yang harus saya jalankan. Akan tetapi, apa itu cukup? Apa yang saya lakukan sudah menggambarkan seorang yang memeluk agama dan memercayai Tuhan? Atau lebih buruk dari itu, perbuatan saya malahan seperti kotoran di dalam sebuah pipa penyalur air yang dapat merusak pipa itu sendiri atau bahkan air yang mengalir keluar dari dalamnya.
Mengapa semakin banyak orang yang memilih jalur aman untuk tidak terikat pada satu kepercayaan khusus? Karena, orang-orang yang memiliki kepercayaan – tetapi tidak mencerminkan kehidupan seorang yang percaya – membuat orang-orang yang setengah percaya memilih untuk meninggalkan hal yang belum sepenuhnya mereka percayai, sebelum hal yang katanya terpercaya itu membuat mereka menjadi seseorang yang tidak dapat dipercaya.
Orang-orang yang memiliki keyakinan malahan yang membuat keributan. Menjadi seorang yang terlalu fanatik tanpa tujuan. Mengubah ajaran-ajaran baik menjadi praktik yang buruk karena pemahaman yang setengah-setengah.
Hari kamis lalu, seorang muda baik hati mengantar saya pulang. Mengatakan “setujukah saya bahwa sebuah kitab kepercayaan bukanlah hal yang layak untuk diperdebatkan?” dengan lantang saya katakan “Ya!”. Adakah tujuan atau hasil akhir yang didapat dari perdebatan seperti itu? untuk mengetahui agama mana yang baik dan benar. Lalu setelah tahu, apa yang diharapkan? Pertobatan besar-besaran? Imajinasi yang kreatif.
Kepercayaan adalah urusan pribadi manusia dengan Tuhan, dan agama adalah sebutan untuk sebuah istilah yang diciptakan manusia untuk menunjukkan kepercayaannya. Lalu, ketika sesama manusia memperdebatkannya, hasil apa yang didapat? Hasil kekosongan. Karena, kecenderungan manusia dalam sebuah perdebatan adalah mempertahankan apa yang menurutnya benar. Bukan apa yang benar-benar benar.
Sekali berfirman, bumi bisa hancur berantakan. Sekali berfirman juga dapat memperindah bentukan. Setelahnya, belumkah kita menyadari bahwa yang dapat dilakukan manusia adalah tidak ada sama sekali. Termasuk memperdebatkan sesuatu yang hanya Tuhan sendirilah yang tahu jawabannya.
Menjadi seorang percaya adalah dengan melakukan sesuatu yang baik dan benar, untuk orang lain dulu, baru untuk diri sendiri. Karena, apa yang kembali pada diri sendiri adalah keegoisan yang dengan mudah dapat membongkar keburukan dari individu yang dikait-kaitkan dengan kepercayaan yang dipeluknya.
Mengaku beragama, tetapi saling membunuh. Mengaku beragama, tapi enggan berbelas kasihan, mengaku beragama, tapi saling merugikan. Lalu, apakah artinya itu? selain sepatah-dua patah kata di atas secarik kertas yang dapat hancur dengan tangan manusia itu sendiri. Hanya sebagai pajangan dan formalitas yang dibenarkan untuk pemenuhan persyaratan.
Hai umat yang mengaku beragama! Janganlah menjadi batu sandungan bagi orang lain. Membuat orang lain melakukan kesalahan karena melihat model percontohan yang keliru. Jangan mengaku percaya tetapi berbuat seperti seorang yang fana. Perbuatlah hal yang dapat menunjukkan kualitas keagamaan tanpa mencoreng nilai-nilai kemanusiaan. Batasilah wewenang diri, karena bahkan orang yang mengaku percaya, belum tentu percaya. Mengerikan, agama administrasi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar