Hari ini, tepat sepuluh hari setelah kepulanganku dari tempat itu. Janjiku, aku akan menuliskan apa yang aku rasakan ketika aku menjalani dua setengah bulan kenyataan di tempat yang bahkan belum pernah aku impikan. Aku bukanlah orang yang terlalu suci untuk mendapatkan bukti kebaikan Tuhan. Tapi – yang kubayangkan – mungkin Tuhan memang memiliki hobi pamer. Memamerkan kebesaran-Nya melalui mereka, keluarga baruku, misalnya. Terimakasih, Tuhan.
“Halo, apa kabarmu, pak?” sapa seorang anak perempuan dengan nada berat melihat pria yang dielu-elukan terduduk lemas dimakan usia di atas lantai ruang makan di siang itu. “Hai! kabarku selalu baik, nak. Bagaimana denganmu?” jawabnya lugas diselipi senyuman hangat yang khas. Bagaimana bisa keadaan seperti ini membuat keadaannya tetap baik-baik saja, sedangkan anak perempuan itu merasakan getirnya seorang bertubuh bidang tunduk takut terhadap keadaan. Wajah protes terhadap jawaban terlihat jelas dari wajah anak perempuan yang malah memancing pria tersebut untuk memberi senyuman.
“Tidak ada hal yang terlalu buruk yang terjadi di dalam hidup, selagi kita masih dapat menjalaninya. Atas ini semua, aku hanya dapat mengucap syukur, aku masih diberikan kesempatan” sambung pria tersebut melanjutkan jawabannya ketika melihat air muka yang terusik dari anak perempuan itu. “Apa lagi yang kau syukuri? Mana lagi yang kau sebut kesempatan?” Anak perempuan itu menaikan nada suaranya atas jawaban terakhir yang diberikan pria yang ia kagumi, seakan-akan lupa bahwa usianya terlampau jauh untuk dapat memberi respon seagresif itu kepadanya.
Anak itu mengingat dan memikirkan hal baik apa yang didapatkan pria yang bersyukur itu di tempat seperti ini? Hidup dibawah aturan yang berlebihan, hidup jauh dari keluarga yang bahkan nampaknya lebih cenderung ingin membuangnya dibanding ingin mengubah dirinya, dan apakah enaknya hidup dibawah tekanan dibanding hidup bebas ketika dia berada di rumahnya sendiri? Anak perempuan itu tidak habis pikir dengan pemikiran naif dari seorang pria yang kini sedang memberikan senyuman menjengkelkan dihadapannya.
“Di tempat ini aku dicintai, tapi masih merasakan sakit hati. Aku makan banyak, tetapi masih merasa lapar, aku tidur dengan nyaman, tapi rasa kantuk itu akan terus datang”. Ya, memang manusia akan terus merasakan itu, kan? Namanya juga hidup. Batin anak perempuan itu di dalam hatinya. “Justru itulah jawabannya. Ketika aku tidak dikendalikan oleh aturan, ketika aku berada di antara keluarga, atau ketika aku menjadi raja di dalam rumah, apakah aku tidak akan mengeluh? Bahkan setelah makan, minum, dan istirahat pun aku masih membutuhkannya dan ternyata hingga saat ini aku masih bisa mendapatkannya”.
“Apakah tujuanmu menjabarkan hal-hal nikmat yang pada dasarnya bisa kudapat? Ah, tanpa kau mendiktekannya untukku pun, aku sudah mengetahuinya. Aku sudah hampir setengah abad menjalani hidup, sedangkan kau? Dua dekade saja belum kau lalui. Hal nikmat apalagi yang belum pernah aku nikmati? Sudahlah, jangan membuatku membayangkan hal-hal nikmat lagi. Aku ini manusia, rasa puasku tidak ada batasnya; keterlaluan. Jangan kau jatuhkan semangat yang sudah kubangun dengan susah payah”. Pembicaraan itu berakhir, anak perempuan itu berhenti dengan senyuman, tujuannya terselesaikan.
Saat ini usianya sudah mencapai dua dekade. Kejadian itu sudah berlalu dua tahun lalu, dan kini dirinya membuat sebuah janji pertemuan dengan pria yang sama, pada tanggal yang sama seperti dua tahun lalu dalam pembicaraan di ruang makan. Dua tahun lamanya mereka berdua hanya bercengkrama lewat sosial media, berharap segala kerinduannya dapat tersampaikan. Inikah saatnya melanjutkan pembicaraan yang terpotong dengan senyuman itu? Apa anak perempuan itu kini telah siap? Hal macam apa nanti yang akan mereka bicarakan? Terus mengandai-andai hingga kini anak perempuan itu duduk manis ditemani secangkir kopi pekat di dalam sebuah kedai kopi yang padat, menunggu seseorang diselimuti dinginnya hujan.
Ia pun datang. Seorang pria tua, tersenyum ramah, berjalan datang menghampiri – tanpa kehilangan kharismanya – mengenakan baju hangat berwarna gelap. “Halo, apa kabarmu, pak?” sapa anak perempuan itu sambil berdiri dari kursinya, mengulurkan tangannya hendak menjabat pria yang kini sudah berdiri di hadapannya. “Tidak adakah basa-basimu yang lain? Jika aku tidak sehat dan baik-baik saja, aku tidak akan datang kesini untuk menemuimu” jawab pria itu sambil bergegas mengambil posisi duduk ternyamannya. “Tidak perlu sehat untuk menemuiku. Aku kan memang menjadi salah satu prioritasmu”. “Kau memang pintar menjawab” pria itu menggoda dengan senyuman.
Anak perempuan itu tidak bertanya tentang kabar kesehatan, melainkan kabar pemulihan yang kini sedang dijaga oleh pria dihadapannya. Di sisi lain, pria itu pun tidak membicarakan tentang kesehatannya, melainkan kondisi pemulihannya yang masih terjaga hingga dua tahun lamanya. Jika pria itu gagal untuk menjaga pemulihannya, pria itu tidak akan memiliki nyali untuk menemui anak perempuan yang pada dasarnya amat sangat senang menguji dirinya.
Satu hari nampaknya tidak akan cukup untuk membayar dua tahun perpisahan mereka. Namun, bukan itu tujuan pria dan anak perempuan itu bertemu. Tujuan mereka adalah melanjutkan pembicaraan yang belum sempat diselesaikan; bukan karena tidak ada kesempatan, tetapi memang sengaja dihentikan untuk keduanya dapat berpikir, merenungkan, dan memang pertemuan ini sudah direncanakan.
“Maafkan aku sudah menjadi seorang anak perempuan yang mengerikan. Seakan-akan isi otakku lebih cemerlang, aku banyak menguji dengan pertanyaan”. Pria itu melemparkan senyuman sejak kata pertama anak perempuan itu menyampaikan permohonan maafnya. “Bukan pertanyaanmu yang mengerikan, yang mengerikan adalah jika suatu saat nanti – ketika waktu-Nya sudah tiba – dan hidupku masih sama saja, tidak ada perubahan.”
Anak itu tersenyum, padahal di dalam hatinya ia tertawa puas. Sekali lagi, kembali jawaban pria itu
sesuai dengan harapannya. Anak perempuan itu tidak terlalu bodoh untuk memberikan pertanyaan-pertanyaan kepada pria itu, bahkan sedari dua tahun lalu. Tujuannya hanyalah agar pria itu dapat berpikir dan menjadikan jawaban-jawaban itu menjadi sindiran untuk dirinya sendiri. Ya, dan pria itu pun tidak terlalu bodoh untuk pada akhirnya menyadari sindiran yang ia berikan terhadap dirinya sendiri dan belajar untuk mengubahnya.
Pria ini bagaikan lempengan besi. Besi yang keras, kuat, dan kokoh, namun tidak memiliki fungsi. Mungkin, ya memang bisa menyakiti, namun apakah untuk itu ia dilengkapi? Bertahun-tahun ia hidup seperti ini, tanpa ada arti. Hingga satu masa di dalam hidupnya, besi itu harus ditajamkan lagi oleh besi. Dipanaskan, melebur, ditempa, melalui prosesnya – hingga akhirnya menjadi sebuah pedang bermata dua. Memang, ya ketika menjadi pedang pun, mungkin saja ia akan tetap menyakiti, tapi setidaknya ia memiliki satu fungsi inti, yaitu untuk melindungi. Jadilah kau pria seperti pedang ini, memiliki visi atas setiap proses yang telah kau jalani.
“Dua tahunku ini sangat berarti. Dua tahunku yang menjadi saksi bagaimana aku menjadi manusia baru. Bukan dengan mudah aku memeroleh dan menjaganya; bukan dengan mudah pula aku akhirnya menerima dan menjalaninya. Apa yang aku dapatkan ini bukan hasil kerjaku sendiri. Tapi, karena keluargaku yang menunggu dan berdoa dengan kerendahan hati, waktu yang Tuhan berikan untukku direhabilitasi, dan orang-orang sepertimu yang turut berpartisipasi. Terimakasih”.
Anak perempuan itu kembali tersenyum. Mengenalnya membuat anak perempuan itu terus menyimpulkan senyuman dan mengucap syukur pada Tuhan. “Ini bukanlah aku, tapi kamu dan Dia. Percayalah, bukan hanya kamu, tapi aku juga adalah sebuah besi yang juga dibentuk sepertimu. Percayalah, melalui kamu, Tuhan juga menyelamatkan aku. Terimakasih”. Selubung terimakasih; suatu ucapan syukur yang tersembunyi karena telah menerima kasih, tutupan kepala tanda kehormatan karena telah menerima kasih. Bukan karena mereka diciptakan sempurna sehingga dapat menjalani hidup dengan jumawa. Tapi, karena ada Satu Kuasa yang mempertemukan dan menyelamatkan mereka pada akhirnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar