Sabtu, 20 Februari 2016

Isyarat Bardin

Bandung. Kota dengan sejuta pesona. Tempat kutuliskan kisahku. Kisah yang tidak ada rasa pilu, kisah yang tanpa warna kelabu. Kisah yang kutulis hanya untukmu. Hanya antara aku dan kamu.
00.38 WIB. “Asalkan dengan kamu, hanya sebatas ngeliatin city lights dari atas jembatan pasupati aja udah damai banget, Din. Selamanya begini, ya.” Perkataan itu terucap begitu saja ketika motor vespa antik melewati sepanjang jalan jembatan pasupati di malam hari. “Gausah berlebihan kamu, Ra. Sampai kapan pun city lights itu kan sama aja. Hal yang perlu kamu tahu, sesuatu yang indah itu pasti membawa kedamaian. Kamu itu indah, untuk apa nyari kedamaian dari tempat lain” sesederhana itu Bardin selalu berhasil membuatku mengagumi diriku sendiri.
Aku adalah aku. Aku yang selalu berhasil memikat jutaan pasang mata dengan pesona kulit eksotis khas Nusa Tenggara, suara emas layaknya artis ibukota, dan rambut hitam yang tergerai dengan megahnya. Entah cantik atau menarik, hanya inilah aku. Lasora Benaya, seorang gadis peranakan Timor Timur yang tidak mengetahui siapakah lelaki yang bertanggung jawab atas kelahiranku ke dunia ini.
Aku lahir dan dibesarkan dalam ketimpangan keluarga yang berusaha mempertahankan hidup dari yang hanya sekedar bisa makan, hingga bermimpi dapat menempuh pendidikan terbaik, dan memiliki kehidupan yang setidaknya berbeda dari kehidupan yang sekarang. Tanpa perlu dijelaskan, lambat laun aku mengetahui bahwa ibuku menjadi wanita simpanan bos-bos besar yang memiliki bisnis kelas dunia di kepulauan Sunda Kecil, bagian dari Negeri Indonesia.
Sebagian anak akan membenci sosok seorang ibu yang bertindak tidak selayaknya seorang ibu. Tiba di rumah hingga larut malam, tidak pulang dengan alasan banyak urusan yang belum diselesaikan, dan berpakaian layaknya pakaian yang kekurangan bahan, bukanlah gambaran wanita yang ingin kupanggil ibu. Tapi, itulah ibu yang selalu aku akui. Ibu yang menyempatkan bangun dini hari untuk menyiapkan sarapan anaknya dengan keadaan tak berdaya, ibu yang menampar anak tetangga dan bertingkah seperti orang sakit jiwa tat kala anak perempuannya bertengkar dengan alasan memperebutkan sebuah gula-gula, dan yang terpenting, dialah ibu yang rela menjual tubuhnya hanya untuk menghidupi aku, anaknya. Terlalu naif, memang. Tapi, harus bagaimana lagi? Yang kutahu, ibu tidak pernah memiliki kesempatan hidup layak semenjak keadaan memaksanya untuk menjadi tulang punggung keluarga, sebelum akhirnya kedua orang tuanya meninggalkan ia dalam kecelakan beruntun di hari ulang tahunnya. Di usia 25 tahun, ketika aku hampir naik ke kelas dua SD, ibu baru bisa membaca buku dengan lancar. Alasan yang masuk akal untuk pekerjaan yang dipilih ibu untuk menghidupiku, anaknya.
Bibi Mariane, seorang wanita dengan segala kelebihan dan kebaikannya menjadi teman yang sepadan untuk ibu. Tidak memiliki seorang pria yang menjadi teman untuk membesarkan anak, Ibu dan Bibi menjalani hidup dengan segala topeng ketegarannya. Ibu membayar biaya sewa rumah Bibi Marie dengan balas jasa menjagaku sepulang sekolah hingga ibu akan menjemputku lagi. Fagadi Bardin, anak lelaki yang menemani saat sedih dan senangnya bibi – saat sedih dan senangku juga – menjadi satu-satunya lelaki yang hadir dalam kehidupan kami. Dan hingga saat ini, Bardin, selalu menjadi yang teristimewa.
Ibu bilang, Bardin adalah anak keturunan India, ayahnya India. Pantas saja, Bardin memiliki kulit hitam manis dan hidung proposional yang tidak mirip sama sekali dengan ibunya yang berhidung mungil dan berkulit kuning khas minahasa. Ayah Bardin meninggal dunia dalam badai besar ketika menjalani hidup dalam kapal pesiar. Usia kami pada saat itu masih empat dan enam bulan. Oleh karena itu, tidak ada satu pun dari antara kami yang pernah melihat ayah kami satu sama lain. Impas.
Hanya Rengga, anak laki-laki yang kukenal melalui persahabatan eratnya dengan Bardin yang kuanggap memiliki keluarga yang paling ideal untuk dijalani. Hidup Rengga hanya sebatas aku dan Bardin. Sifat Rengga yang lemah gemulai membuat semua anak lelaki geli dan enggan berteman dengannya. Tapi, Bardin berbeda. Persahabatannya dan Rengga masih terlalu manis untuk dibilang biasa. Itulah Bardin, kasih dan mesra.
Bertahan hidup dengan cara ibuku yang menjual dirinya sendiri dan dengan cara Bibi Marie yang menjual daging haram untuk para turis, berhasil membesarkan kami hingga kini. Hanya saja, dosakah kami? ketika kami berdua mengikuti tes dan berhasil lolos dalam universitas ternama yang berada di kota yang sama, yang jauh dari kedua orang tua kami. Dari kedua wanita yang sama-sama istimewa bagi kami.
“Hidup itu harus terus berjalan, nak. Ibu tidak cukup berhasil mendidikmu, oleh karena itu, kamu harus jadi wanita yang lebih pintar dari ibu. Setidaknya, anakmu harus jadi lebih baik.” Kata-kata ibu menguatkanku. Lalu? Bibi Marie? Bibi Marie hanya dapat menangis sembari memeluk Bardin yang dengan kaku tidak membalas pelukan ibunya dan tidak meneteskan air mata sama sekali. Seorang laki-laki pasti akan lebih kuat, itu pikirku. Tetapi, Rengga? dia lelaki yang istimewa. Memeluk Bardin dengan isak tangis tanpa rela membiarkan Bardin meninggalkannya sendiri dengan usaha meubel milik ayahnya.
Inilah kami. Aku dan Bardin, di tengah kota perantauan. Waktu sehari kami habiskan untuk mencari kontrakan dengan harga murah dan pekerjaan paruh waktu yang mungkin dapat kami kerjakan untuk mendukung kebutuhan kami, nihil. “Jangan terlalu dipaksakan. Kita masih punya waktu seminggu sebelum pekan registrasi. Kalau uangmu habis, pakai uangku saja. Ibu memberi lebih.” Aku yakin Bardin berbohong. Setuju saja tidak, apa mungkin ibunya akan memberi uang lebih untuknya?
Hari-hari berlalu, hingga akhirnya kami pun resmi menjadi mahasiswa dalam sebuah universitas yang selama ini hanya kami lihat dalam poster di dinding kamar kami. Aku memilih jurusan seni rupa desain dan Bardin memilih jurusan bisnis dan manajemen. Kami berdua mendapat pekerjaan paruh waktu di restoran makanan cepat saji yang berbeda, setelah sebelumnya kami harus berpuasa selama tiga hari dan hanya makan tumis sayur kangkung ketika berbuka karena uang kami habis untuk menyewa rumah selama setahun penuh.
Dengan ketampanannya, Bardin menjadi sangat populer untuk ukuran mahasiswa baru. Aku, hanya sering diganggu senior-senior kurang kerjaan karena tubuh, rambut, dan kulit indahku. Tidak pernah dibiarkan terlalu lama, Bardin akan langsung datang meraih tanganku layaknya pahlawan yang hendak menyelamatkanku. Setelahnya, aku mendelik, berusaha mengkomunikasikan bahwa Bardin – lelakiku – datang menyelamatkanku.

Di kota ini, waktu tidur menjadi sesuatu yang mewah bagiku dan Bardin. Pagi hingga siang hari aku pergi kuliah, sore hingga malam aku bekerja, setelahnya, tugas-tugasku melambai cantik di atas meja kerja dalam kamarku. Aku harus menyelesaikannya, dibantu Bardin tentunya.
Bardin selalu menjadi lelaki yang ada di sisiku ketika aku membutuhkan maupun tidak membutuhkannya. Sejak kecil, Bardin menjadi tameng yang melindungiku erat, menjadi sekoci darurat ketika air sungai meluap, dan menjadi selimut di malam dinginku yang penuh rasa hangat. Hingga dewasa, aku merasa keistimewaannya menjadi sinyal hubungan serius yang tersirat melalui perhatian dan kekhawatirannya atas diriku. Bardin yang penuh dengan kharisma, memperlakukanku dengan kasih mesra. Aku yakin, hal inilah yang dimiliki ayahnya dulu yang dapat menaklukan Bibi Marie, ibunya.
Tidak banyak hal yang mengganggu di masa orientasi jurusan yang aku dan Bardin jalani. Hal ini karena kami ada, saling mengisi satu sama lain. Untukku, kenyamanan ini dilengkapi lagi dengan kehadiran Regi, ketua himpunan mahasiswa jurusanku yang merangkap jabatan menjadi coach sekaligus mentor yang tanpa segan mengajari, bahkan sesekali memberikan perlengkapan seni rupa yang tidak murah harganya. Ayahnya merupakan pengusaha di bidang desain interior. Jadi, banyak alasan untuk dia dapat membawakanku ini itu tanpa memintaku untuk memberi ini itu.
Ada satu hal bodoh  yang aku lakukan pada malam pentas seni jurusanku. Regi, pria yang kuanggap seperti kakakku sendiri menyatakan cinta dan memintaku menjadi kekasihnya. Aku merasa kecewa. Mengapa ia harus bertingkah seperti itu? Aku tidak merasakkan apapun jika aku bersamanya. “Maaf, Gi. Kamu sudah aku anggap seperti kakakku sendiri. Lagipula, semua juga tahu, aku sudah punya pacar” “Siapa dia, Ra? Laki-laki mana yang memperlakukanmu lebih istimewa daripada aku?” “Bardin. Engga ada yang bisa gantiin posisi Bardin, bahkan kamu sekalipun” jawabku penuh keraguan.
Semua mata memandang kaku pada kami berdua. Moment  manis dan romantis yang diharapkan, berubah menjadi saat yang menyebalkan, aku dapat merasakannya. Semua orang menatapku kesal, termasuk Bardin, yang sejurus kemudian berlalu meninggalkanku bersama keramaian yang terasa sunyi. Aku pulang sendiri. Bahkan Regi, meninggalkanku tanpa jejak cinta yang baru saja ia nyatakan. Semakin tidak ada pria sempurna di mataku kecuali Bardin. Tapi, dimana ia kini? Mengapa ia tega meninggalkanku bersama kelelahan dan kekecewaan yang menggerogoti hati?
Rumah kontrakan yang kami sewa terlihat sepi. Lampu pijar di beranda rumahlah satu-satunya sumber cahaya yang dapat aku lihat. Bardin pindah, dia meninggalkanku dengan hanya meninggalkan sebuah surat perpisahan. Ia mengatakan, bahwa ia tidak pergi jauh dariku – masih di kota yang sama – Bardin akan selalu datang ketika aku membutuhkannya. “Aku mengasihimu sahabatku” tulis Bardin di akhir suratnya. Dadaku terasa sesak hingga rasa sedihku pun tak dapat terungkap. Satu hal, aku membenci Bardin. Aku bisa hidup sendiri tanpa bantuannya dan aku akan hidup tanpanya. Sendiri. Di Kota Bandung ini.
Bardin menghubungi dan mengirimiku pesan. Ia bertanya bagaimana kabar dan kesehatanku. Tak satu pun telepon yang kuangkat dan pesan yang kubalas darinya. Keadaan perkuliahanku pun menjadi tidak senyaman dulu; seluruh teman-teman seangkatan sinis kepadaku karena telah menolak cinta ketua himpunan yang begitu keren dimata mereka, untuk berpapasan denganku saja Regi tidak mau, dan yang terparah, Bardin tidak pernah menampakkan batang hidungnya lagi di hadapanku.
Kesehatanku menurun drastis. Ibu berulangkali menghubungiku karena khawatir setelah mengetahui keadaanku yang tidak baik. Aku tidak dapat berbohong padanya, aku menceritakan apa yang aku dan Bardin hadapi. Ibu dan Bibi Marie mengungkapkan kesedihannya tanpa bisa berbuat apa-apa. Bagi mereka, hal ini merupakan masalah yang hanya dapat diselesaikan oleh aku dan Bardin. Menakjubkan. Aku berjuang seorang diri lagi.
Sempat terlintas dalam benakku untuk berhenti saja menempuh pendidikan yang kini kujalani tanpa hati. Seluruh hatiku telah pergi. Bagaimana aku dapat menjalani sisa hidupku lagi? Bardin, alasanku memilih pergi dari tanah kelahiranku telah mengabaikanku tanpa alasan yang kutahu. Hubungan yang diberi status sahabat telah membuatku menjadi wanita paling bodoh sedunia! Dengan segala kenangan dan perjalanan hidup yang sama-sama kami jalani, dengan segala perhatiannya, dengan kehadirannya disetiap jengkal masalahku, dia pergi meninggalkanku tanpa meninggalkan sesuatu.
“Aku tahu, hidupmu begitu berat. Jika kau membutuhkanku, aku akan selalu ada di dekatmu. Hanya, carilah aku di tempat dimana mungkin aku berada. Jangan pernah mencari aku di tempat yang tidak mungkin aku tinggali – hatimu. Aku tahu, kekacauan yang aku buat dalam hidupmu. Kini, hanya jalanilah kenyataan dalam hidupmu. Jangan pernah acuhkan aku! Hanya ingatlah ibumu! Kita sama-sama tahu, ibumu memiliki harapan yang masih harus kau genapi. Anggap saja balasan untuk tahun-tahun sulitnya merawatmu, anak semata wayangnya. Ketika kita dipertemukan pada waktu yang tepat, akan kujelaskan semuanya. Lupakanlah perasaanmu, Ra” tulis Bardin singkat dalam secarik kertas yang ia tinggalkan di depan pintu rumahku. Rasa benciku tumbuh beriringan dengan rasa sayangku padanya. Tidak pernah berubah, aku mencintainya.
Aku menjalani kuliahku sebaik yang aku bisa. Inilah janji tersiratku padanya. Aku menjalani kuliahku untuknya. Aku bangkit dan mengabaikan setiap perkataan dan perlakuan orang padaku, untuknya. Dengan sebuah harapan, bahwa kami akan dipertemukan dalam saat yang tepat dan Bardin akan menjelaskan apa yang terjadi pada kami sesungguhnya.
Semester akhirku tiba. Aku menjalaninya tanpa kendala yang berarti. Semua itu karena Bardin. Sejak masalah di malam itu, tak pernah sekali pun aku bertemu dengan Bardin. Tanpa bertemu dengannya, aku masih bisa mendapatkan enerji ekstra untuk menjalani sisa hidupku. Sekuat itulah cintaku pada Bardin. Sekuat harapanku untuk dapat pulang kembali ke kepulauan bersamanya dan menjalani hidup kami yang bahagia selamanya.
Aku telah menyelesaikan sidang kelulusanku dengan baik. Kudengar, Bardin pun begitu. aku menjadi ketakutan ketika kuingat bahwa telah dekat waktu yang kutunggu untuk bertemu dengannya. Hampir tiga setengah tahun berpisah, Bardin tidak pernah mencariku. Bahkan surat yang ia kirim tiga tahun lalu, menjadi satu-satunya bukti yang meyakinkanku bahwa Bardin masih hidup. Aku takut, alasan yang Bardin katakan akan menyakitiku.
Malam perpisahan dari himpunan jurusan Bardin diadakan disebuah hotel mewah ternama di Kota Bandung. Himpunan jurusanku diundang untuk memberikan hiburan sebagai bintang tamu. Suatu kebetulan yang terlalu sempurna untuk dilewatkan. Aku mengenakan pakaian terbaikku, sebagai hadiah dan hukuman untuk Bardin agar dia menyesal telah mengabaikanku selama ini.
Berdiri di pojokkan, Bardin begitu tampan dengan mengenakan tuksedo hitam lengkap dengan rambut klimis ala-ala. Aku salah, nampaknya bukan Bardin, tetapi aku yang menyesal. Menyesal telah berpura-pura mampu mengabaikannya selama ini. Perbincangan-perbincangan penuh kecanggungan mewarnai malam pertemuan kami. “Nanti pulangnya aku yang anter kamu ya, Ra”. Bardin selalu romantis dengan cara yang elegan. Singkat dan tulus. Itulah alasan semua wanita memujanya.
Bardin menarik tanganku lembut sebagai tanda bahwa malam ini akan segera berakhir. Pekerjaan Bardin membuatnya dapat membeli sebuah motor antik yang cukup kokoh untuk dipakainya memboncengku. Aku berkhayal disepanjang perjalanan, membayangkan jawaban apa yang akan diberikan Bardin dan reaksi apa yang akan aku tunjukkan. Rasa gengsiku selalu mengalahkan niatanku untuk sekedar mengatakan bahwa aku mencintainya, aku merindukannya.
00.38 WIB. “Asalkan dengan kamu, hanya sebatas ngeliatin city lights dari atas jembatan pasupati aja udah damai banget, Din. Selamanya begini, ya.” Perkataan itu terucap begitu saja ketika motor vespa antik melewati sepanjang jalan pasupati di malam hari. “Gausah berlebihan kamu, Ra. Sampai kapan pun city lights itu kan sama aja. Hal yang perlu kamu tahu, sesuatu yang indah itu pasti membawa kedamaian. Kamu itu indah, untuk apa nyari kedamaian dari tempat lain” sesederhana itu Bardin selalu berhasil membuatku mengagumi diriku sendiri.
Sesaat, aku tidak dapat mengatakan apapun. Dialah pria yang dari dulu selalu membuatku yakin ketika keadaanku dan ibuku membuatku merasa menjadi seorang wanita tanpa harga diri dan tidak layak menjadi bagian dari sebuah masyarakat. Bardin, seorang pria dengan sejuta cara mampu mengembalikan harga diri yang tak kubayangkan dapat membawaku sejauh ini.
“Lalu, kenapa kamu kaya gini sama aku, Din? Kamu tahu? Hari-hariku berat tanpa kamu.” Kataku lemas. Bardin menghentikan laju motornya tepat ditengah-tengah jembatan. Dia berdiri dipinggir jembatan, berharap aku menghampirinya. “Pada saat itu, aku memang gegabah, Ra. Terlanjur malu, aku melanjutkan untuk tidak menghampirimu. Surat dan pesan singkatku yang tidak dibalas semakin meyakinkanku bahwa aku memang tidak layak bagimu” Sekali lagi Bardin berhasil membuatku menyesal telah mengabaikannya. Aku berpikir, andai saja waktu itu aku balas suratnya atau balik menghampirinya, mungkin keadaan tidak akan serumit ini.
“Kamu mencintaiku atau tidak?” tanyaku penasaran. Bardin menengadah ke langit diiringi helaan nafas panjang “Iya. Tapi, hanya sebatas wanita istimewa. Aku tidak dapat menjadikanmu wanitaku atau menikahimu, Ra.” Aku kecewa dan menarik pundak Bardin sehingga kami berhadapan “Apalagi yang kurang dariku, Din? Apa istimewa saja tidak cukup?” terlihat wajah Bardin yang terkejut dengan respon agresifku.
Bardin menurunkan tanganku dari pundaknya. Genggamannya masih khas. Sudah lama aku tidak merasakan gandengan tangan senyaman ini. Bardin memelukku dengan erat dan aku yakin ia merasakan isak tangis kerinduanku akan sentuhan dan perhatian darinya. “Kamu istimewa dan aku cinta kamu, Ra. Tapi... “ “Tapi apa, Din?” Aku melepas pelukkan dan menatapnya, berusaha mencari tahu kebenaran dari sorot matanya.
“Mama. Mama sering rindu papa. Mama ditinggal oleh papa sejak aku masih berusia enam bulan. Aku melarang mama menikah karena tidak mau mama disakiti oleh lelaki yang tidak jelas asal-usulnya. Aku tumbuh menjadi anak yang tampan dan menggemaskan. Awalnya, aku tidak tahu, apa yang mama lakukan padaku? Sejak usia enam tahun, malam-malamku menjadi malam yang amat panjang. Mama sering masuk ke kamar dan mengatakan akan menemaniku tidur. Tapi, yang ia lakukan adalah membuka seluruh baju dan memegangi tubuhku seraya menyuruhku memegangi buah dadanya.” Tertegun aku dibuatnya. Air muka Bardin berubah seketika. Baru kali ini aku melihat watak pengecut terpancar dari wajah Bardin, terlihat amat sangat ketakutan.
Bardin hanya dapat menciumi tanganku yang berusaha menyentuh pipinya yang mulai meneteskan air mata. “Kamu jangan bohong, Din. Bibi Marie baik. Dia sayang sama kamu” “Ya. Mama memang baik, Ra. Aku yang jahat. Aku yang tidak pernah mengizinkannya untuk menikah lagi. Hingga akhirnya, aku sadar bahwa yang mama lakukan padaku adalah untuk memuaskan nafsu karena kerinduannya pada papa. Ketika aku menyadari dan menyesalinya, semuanya sudah terlambat.” “Mengapa aku tidak mengetahuinya? Setelah semua hal yang aku lalui bersamanya, mengapa aku tidak mengetahui ketakutan yang terus mengusik hidupnya?” Batinku dalam hati.
“Lalu, apa yang salah denganku, Din? Mengapa tak kau izinkan aku menjadi pendampingmu untuk dapat melindungimu dari nafsu Bibi Marie?” “Engga bisa, Ra. Aku sakit. Aku takut sama perempuan. Aku ketakutan ketika membayangkan malam pertama kita saat kita menikah nanti. Aku suka sama cowok, Ra. Aku ga normal” Ucap Bardin dengan histeris sambil terus menggenggam tanganku. Aku masih berusaha menenangkan diriku untuk meyakinkan Bardin bahwa apa yang ia alami tidak akan merubah rasa cintaku padanya.
“Laki-laki mana yang berhasil menghentikan ketakutanmu, Din?” “Rengga.” Ribuan panah terasa menghujam jantungku. Tak ada yang lebih menyakitkan selain mengetahui bahwa pria yang selama ini kau puja tidak mencintaimu. Pria itu mencintai pria lain. Air mataku sudah tidak dapat dibendung lagi. Aku memeluk Bardin dengan erat dan Bardin melepas ketakutannya dalam pelukkanku. “Aku masih terus berkabar dengan Rengga, Ra. Hari ke hari, aku tidak dapat mengontrol rasa rinduku padanya. Rasa rindu yang dapat mengalakan rasa cintaku padamu.” Ucap Bardin tanpa rasa bersalah.

Inilah yang kutakutkan. Ketika jawaban Bardin tidak sesuai dengan harap. Ketika aku tahu bahwa selama ini Bardin memiliku, tapi aku tidak memilikinya. Kini, yang kuingat hanyalah isyarat Bardin. Isyarat perpisahan Bardin, isyarat yang tak pernah kutahu, isyarat yang mengatakan bahwa kisahku kelabu, kisahku penuh pilu, isyarat yang kudapat ketika aku melewatinya bersamamu.

1 komentar:

  1. 😖😖😖😖😖😖😖

    BalasHapus