Pikirku, kediaman adalah bentuk fisik dan bangunan
Pikirku, tak akan nyaman jika kutinggali berantakan
Nyatanya, dimana kamu merasa nyaman
Disitulah sebenar-benarnya kediaman
Lalu, ditengah jauhnya kegiatan dan rumah
Kebutuhanmu akan bertambah
Kamu akan membutuhkan apa yang membuatmu nyaman
Seorang yang selalu sedia menjadi kediaman
Seorang yang memberi nyaman, tepat saat kamu membutuhkan
Di dalamnya, kamu dapat menjadi salah
Namun, segera berbenah
Di dalamnnya, kamu dapat menjadi murni
Tapi, selalu dapat menjadi lebih baik lagi
Bayangkan, betapa rasanya hidup
Ketika kamu dapat menjadi manusia
Diizinkan merasa kesal, marah, dan lalai
Namun penghargaan tetap didapatkan
Bayangkan, ketika kamu berada dalam titik terendahmu
Kediamanmulah yang menjadi naungan
Dan ketika kamu meraih suksesmu
Kediamanmulah yang mengingatkan untuk jangan lupa daratan
Mungkin, kamu bertanya
Apakah ada kediaman seperti itu?
Kediaman berwujud seseorang yang sebijak itu?
Aku juga ragu. Tapi, itu dulu
Kediamanku begitu lapang
Memberi izinku untuk membuatnya berantakan
Memaklumkan, bahwa aku akan kembali merapikan
Aku rombak, dan dia izinkan
Demi kebaikan, katanya
Kediamanku bukan benda mati yang hanya bisa diam
Setiap sudutnya seakan terdapat cermin
Cermin yang merefleksikan aku di dalamnya
Sehingga yang diperbaiki jadi ada dua: aku dan dia
Rasanya sakit, tidak enak sama sekali
Helaan nafas dan jatuhnya air mata
Sesak karena terkadang aku bergelut dengan diriku
Bertanya, apa ini perlu?
Tidak apa. Demi kebaikan, katanya
Aku menemukan dan kehilangan diriku
Menemukan diriku yang lama bersembunyi malu
Dan kehilangan yang tidak seharusnya disitu
Secara iklhas, bersamaan, dalam kediaman
Tidak pernah aku merasa menjadi manusia
Tidak pernah serela ini menjalani hidup
Pun sedamai ini dengan diri sendiri
Kini aku menyukai diriku
Diriku yang lebih baik
Diriku yang selalu menjadi lebih baik
Di dalammu, bersamamu, kediamanku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar