Dear aku.
Ini kali kedua kamu merasakan tanda-tanda kehadiran seorang anak, dan kali kedua pula kamu harus merasakan deg-degannya menghadapi pendarahan.
Ga enak, ya? Harus tetap tegak berdiri di antara harapan dan keputusasaan.
Mungkin, kadang kamu sirik. "Kok orang gampang banget ya dapet anak?"-karena kamu begitu ingin memilikinya.
"Kok orang masih hamil muda udah boleh mengunggah di media sosial dan kandungannya baik-baik aja, ya?"-karena kamu masih diingatkan pamali oleh keluargamu, dan kamu menurutinya.
Hari-harimu dipenuhi intimidasi, rasa trauma, dan perasaan bersalah. Kerjaanmu hanya mencari tahu kenapa dan kenapa... Padahal, kamu tahu betul, memiliki anak itu perkara kuasa dan kehendak-Nya.
Sekelebat kamu berpikir, lalu dipermalukan oleh iman Abraham, Nuh, dan Ayub.
Kualitas hubunganmu dengan Tuhan, harus dibuktikan dengan ketaatan-Mu pada proses-Nya, bukan?
...dear aku, tetap bertahan, ya. Jatuh bangun perasaanmu, tangis tawa imanmu, maki puji lisanmu, itu wajar kok!
Tapi, abis ini janji, ya? Siapin banyak-banyak tawa, karena Tuhan lagi siapin cawanmu untuk menerima lebih banyak sukacita.
Pokoknya apapun hasilnya nanti, kejadian ini ga boleh jadi sekadar kejadian, tapi harus kamu gunakan sebagai kesaksian.
Saat ini, kamu hanya perlu percaya, bahwa Iman yang besar mampu memindahkan gunung.
Tapi, iman yang benar, tetap percaya sekalipun gunungnya ga pindah.
Dear aku, tetap bersyukur dan puji Tuhan, ya!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar