Rabu, 23 Maret 2022

Pujian Salah Alamat

Lagu penyembahan dengan kata-kata yang puitis, lagu pujian dengan aransemen yang enerjik, Worship Leader yang bisa “bawa suasana” pada saat ibadah, dan pembawa firman yang asik, memang menjadi paket lengkap rohani yang sering diburu sama anak-anak muda kristen yang haus akan Tuhan di Hari Minggu.

Oleh karena itu, 'gak jarang anak-anak muda lebih betah di gereja-gereja milenial dibanding dengan gereja tempat mereka berjemaat yang kebanyakan adalah gereja kesukuan. “Hari-hari gue udah berantakan, jadi gue pengin seenggaknya sekali aja dalam seminggu bisa ngerasain hadirat Tuhan dan denger Tuhan ngomong ke gue”.

Puji Tuhan, makin kesini, makin banyak orang yang ngebela-belain “mencari Tuhan” di gereja-gereja yang dianggap bisa memenuhi kehausan tersebut. Rela mengantre, booking ibadah online supaya ga kehabisan slot, bahkan yang budayanya memberi persembahan secara virtual pun, diadaptasi.

Jadi, kenapa? Adakah masalah dari beribadah di gereja diluar kejemaatannya? Sebenarnya, tidak. Selama itu kristen, mengajarkan tentang Kristus, dan berdiri sebagai gereja yang jelas, sama sekali 'gak jadi masalah. Kekeliruannya sering muncul dari “apakah motivasi kita mengikuti ibadah disitu?”

WL-nya? Aransemen lagunya? Kualitas bandnya? Pembawa firmannya? Atau karena ingin mencari hadirat-Nya?

Saya menghidupi gelora dan hasrat anak muda untuk mencari inovasi dan sesuatu yang seru, karena saya pun anak muda. Mengikuti banyak ibadah untuk mencari sesuatu yang baru atau inspirasi yang akhirnya akan kita kembangkan untuk memuliakan nama-Nya juga, itu 'gak salah. Bagus banget, malah! Untuk Tuhan, jangan cepat puas.

Tapi, mencari hadirat Tuhan dari kepenuhan atau andil seseorang itu, tidak benar. Karena, hadirat Tuhan berbicara tentang hati kita pribadi dengan hati-Nya. Tentang kepenuhan kita, ketika mengundang Ia menguasai kita. Jadi, mau kita sedang worship dalam perjalanan, ketika di kamar, atau ketika sedang  melakukan sesuatu, kita bisa izinkan hadirat Tuhan menguasai penyembahan kita. Cukup kita dengan Dia, gak peduli apa lagunya, gimana aransemennya, atau bahkan siapa yang bawa lagunya.

Gimana tentang pembawa firman? Pembawa firman ‘kan memang talenta khusus yang Tuhan kasih, gak semua bisa membawa dan menyampaikan firman dengan baik, dan memang dampaknya fatal, apalagi untuk seorang gembala yang punya banyak domba. Salah-salah asuh, dombanya bisa pergi berhamburan. Ya, itu memang mungkin terjadi.

Tapi, anak-anak Tuhan, jangan pernah biarkan siapa pun memengaruhi pengenalanmu tentang Dia. Mengenal Tuhan bukan kegiatan seminggu sekali, yang dilakukan hanya ketika ibadah formal di gereja. Tertegur atas firman yang dibawakan hamba-Nya itu baik, luar biasa. Tapi, pengalaman pribadi kita lah yang pada akhirnya mempertahankan iman dan apa yang kita sebut hadirat itu, di dalam hidup kita.

Pembawa firman dan worship leader itu hanya manusia, yang Tuhan pakai sebagai alat-Nya. Jangan pernah memuji manusia secara berlebihan, apalagi menjadikan mereka sebagai alasan.

Kekristenan anak muda pernah ada di tahap menerima gelombang gereja-gereja modern yang mengeluarkan lagu, menyuguhkan pembawa firman, dan worship leader yang memang luar biasa baiknya dalam menggunakan talenta mereka. Mengapresiasi talenta tersebut, baik. Membandingkan dengan gereja sebelah, tidak. Memuji penyembahannya baik, berbalik menyembah mereka, tidak.

Sadar tidak sadar, terkadang kekaguman dan pujian kita sering salah alamat. Memengaruhi semangat dan hasrat kita. Meminggirkan kenyataan bahwa yang harus bertakhta itu Dia, bukan anak-Nya. Hadirat-Nya itu dimana-mana, bukan tergantung siapa dan bagaimana. Oleh karena itu, perbaiki motivasi kita, pastikan bahwa pujian yang kita berikan, disampaikan kepada alamat yang tepat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar