Senin, 24 Januari 2022

Sindrom Anak Tuhan

Pernah gak, sih? Kita ngerasa gak layak untuk datang ke gereja, karena kita ngerasa gak lebih baik atau gak lebih rohani dari teman-teman kita.
Atau pernah gak, sih? Mengeluhkan teman kita yang kegiatannya rohani, tapi perilakunya roh halus, alias berbeda banget sama apa-apa yang dia lakukan di gereja.
Dua perspektif yang kontras ini, seringkali muncul dalam pikiran beberapa orang yang terlibat atau mau terlibat di gereja. Salah satu merasa dirinya gak layak, yang lainnya merasa orang lain gak layak, karena gak ada perubahan di dalam dirinya.

Oh iya, satu lagi. Fenomena ketika aktivis gereja merasa terganggu dengan kehadiran si pemabuk, si manusia event (yang hadir hanya ketika hari-hari besar kerohanian), atau terganggu dengan kehadiran aktivis nongkrong, yang datang ke gereja cuma buat asik-asikan.

Suatu hari, saya pernah bergaul dengan beberapa anak Tuhan yang sayangnya terjerat dalam kasus penyalahgunaan narkoba. Saya tanya, kenapa mereka tidak datang ke gereja. Seperti mengganti pergaulan untuk mempertahankan pemulihannya. Dari sekian banyak alasan dan penolakan, salah satunya ada yang memiliki kerinduan untuk lepas dari jerat narkoba, namun memiliki alasan “tidak diterima” ketika masuk lingkungan gereja.

Beberapa minggu lalu, saya mendengar firman yang dibawakan oleh salah satu hamba Tuhan, yang mengingatkan cerita zaman sekolah minggu, Zakheus. Zakheus merupakan kepala pemungut cukai yang dibenci karena bekerja pada Pemerintahan Romawi - yang pada saat itu menjajah Bangsa Yahudi - dan acapkali memungut cukai melebihi yang seharusnya. 

Zakheus memiliki kerinduan untuk melihat Yesus, sehingga ia nekad memanjat pohon ara, karena terhalang oleh kerumunan. Singkat cerita, Yesus memanggil Zakheus untuk menumpang makan di rumahnya, dan Zakheus menerima Yesus dengan sukacita. (Lukas 19:1-6).

Fakta yang menarik adalah, semua orang yang melihat kejadian itu, bersungut-sungut dan berkata “Ia menumpang di rumah orang berdosa” (Lukas 19:7). Wajar? Wajar sekali. Zakheus seorang pemungut cukai yang dipekerjakan oleh penjajah pada saat itu, ia memungut melebihi nilai yang seharusnya, dan fakta bahwa ia memiliki tubuh yang tidak umum seperti orang pada zamannya. Lengkap sudah, menjadi alasan untuk Zakheus dibenci oleh banyak orang.

Tapi, bukan Yesus namanya jika hanya melihat apa yang dilihat manusia. Kebayang gak? Kalo pada saat itu, Zakheus memiliki kerinduan yang besar untuk bertobat, tapi Yesus terpengaruh orang-orang di sekitarnya, dan berkata “Gak deh, kamu berdosa”, atau “yakin mau ketemu Aku? Besok juga berdosa lagi”, atau bahkan “Gak, kamu ga layak. Dosamu gak bisa diampuni”.

Tanpa meremehkan keagungan dan kuasa Tuhan, tapi nyatanya memang Yesus datang ke dunia, untuk orang-orang berdosa. Apapun dosanya, berapa kali pun ia berbuat dosa, atau bahkan berapa kali pun ia berusaha untuk tidak melakukan dosa, ya Yesus tetap pada kodratnya, lahir dan mengasihi orang berdosa. Aku... Kita.

Namun ga jarang, kita-kita yang merasa mengasihi Tuhan, menjalani waktu intim dengan-Nya setiap hari, ambil banyak tugas di gereja, dan sebagai-bagainya, justru menjadi hakim tersadis bagi sesama anak-Nya. Sama seperti Bangsa Yahudi yang menghakimi Zakheus, alih-alih bersukacita atas akil balik kehidupannya. Padahal, pertobatan Zakheus tumbuh dari benih sederhana bernama "penerimaan".

Sebenarnya, bukan tanpa alasan. Karena, kerohanian yang kita bangun ini harus dijaga dan dipertanggungjawabkan. Tapi, bahkan dalam sebuah pohon yang berbuah pun, ada beberapa buah yang tidak tumbuh sempurna dan harus dibuang untuk menyelamatkan buah yang lain. Begitu pun dengan perjalanan iman kita, ada beberapa kekeliruan yang harus diluruskan, agar tidak menghasilkan sindrom-sindrom lain yang mungkin menghakimi atau membuat orang lain takut “menjadi rohani”.

Lalu, bagaimana dengan aktivis-aktivis yang kegiatannya rohani, tetapi perilakunya roh halus? Mengingatkan boleh, menghakimi jangan, kamu bukan Tuhan. Jangan jadikan dirimu, menjadi batu sandungan bagi petualangan pertobatan seseorang. Perkara perilakunya yang tidak berubah atau seremeh dirinya yang bukan anggota jemaat gerejamu.

Pengetahuan literasi seseorang tentang alkitab, tidak menjadi tolak ukur keintiman seseorang dengan Tuhan. Keintiman itu akan berbuah melalui pembaharuan sifatnya, perilakunya, cara pandangnya, dan bagaimana ia memperlakukan orang lain. Perjalanan iman setiap orang berbeda, tapi pastikan dalam perjalanan itu, buahnya hanya satu. Buahnya hanya kasih dari kamu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar